Tiga Hari di Manokwari

IMG-20141223-WA0000

:: Agus M Irkham

Awal November 2014 lalu saya berkesempatan ke Manokwari, Papua Barat.  Kebetulan ada kolega saya sesama pegiat literasi dari Komunitas Suka Membaca Manokwari, David Pasaribu yang mengundang saya.  Ada dua acara yang akan saya ikuti, pertama bedah buku 24 Cara Mendongkrak IPK, ini buku saya terbitan Pro You Media, Jogyakarta.  Dan yang kedua adalah bertemu dengan beberapa stakeholder budaya baca di Manokwari.

 

Komunitas Suka Membaca atau disingkat KSM ini memiliki visi Menjadi Komunitas Literasi yang Kreatif.   Komunitas yang sebagian besar digerakkan oleh para mahasiswa di Papua Barat ini memiliki misi (1) Menumbuh kembangkan budaya membaca di kalangan anak muda; (2) Mengenalkan budaya menulis di komunitas dan anak muda Manokwari; (3) Mengembangkan kreatifitas anggota komunitas.

Saya terbang dari Jogyakarta Senin (10/11/2014) sekitar pukul 8 malam.  Transit di Surabaya, terus lanjut ke Makassar.  Kemudian terbang kembali ke bandara Rendani, Manokwari.  Saya tiba di Rendani keesokan harinya, sekitar pukul 6 pagi waktu setempat.  Hari pertama tiba, saya gunakan untuk istirahat sejenak, karena lumayan jetlag, baru selepas zuhur saya sempatkan jalan-jalan dengan sepeda motor, ditemani Robi, teman David, menyusuri Manokwari.  Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah pelabuhan Manokwari.

Keesokan harinya, bedah buku berlangung.  Acara digelar di aula RRI Manokwari.  Ada sekitar 20 peserta dari beberapa perguruan tinggi di Papua.  Mulai dari Universitas Negeri Papua, Universitas Muhammadiyah Papua, sampai Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata.  Bedah buku berjalan lancar dan banyak pertanyaan kritis terlontar.  Sebagaimana filosofi  tentang buku itu sendiri, setelah ia diterbit maka segala isi yang ada di buku tersebut akan diuji.  Sehingga nanti muncul antitesis, membentuk sintesa, dan kemudian menjadi tesis baru.  Dengan begitu ilmu pengetahuan akan berkembang.

Atas dasar pemahaman tersebut, kritik terhadap suatu buku justru sangat diharapkan.  Jadi buku bukan sarana untuk melakukan kolonisasi wacana dan pengetahuan sehingga setiap kehadirannya harus dicurigai.  Sebaliknya sebagai upaya untuk memperkaya wacana dan pengetahuan serta meningkatkan kualitasnya pada level yang lebih tinggi lagi.

Dalam kesempatan bedah buku ini pula saya paparkan tentang tantangan generasi mudah di Papua.  Mereka akan menghadapi tantangan yang berlapis-lapis  saat akan berkiprah di Papua Barat.  Saat akan masuk ke dalam dunia kerja, misalnya.  Mulai dari sesama putra Papua yang punya kesempatan  sekolah dan kuliah di luar negeri.  Dengan para pendatang yang berasal dari luar propinsi, serta dari sumber daya manusia yang berasal dari ASEAN.  Mengingat 2015 diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean.  Tinggal bagaimana respon terhadap situasi tersebut.  Resisten atau menolak semata atau dijawab dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga mampu berkompetisi dengan yang lainnya.

Sehabis acara bedah buku, saya bersama David bertemu dengan salah satu pimpinan RRI Manokwari.  Kami secara informal berbicara tentang kemungkinan diselenggarakannya acara perbukuan di Manokwari yang melibatkan Komunitas Suka Membaca sebagai pelaku utama.  Mereka sangat senang jika dalam waktu dekat gagasan tersebut bisa direalisasikan.  Jadi tinggal menunggu kesiapan teman-teman di Komunitas Suka Membaca. Konsep acaranya, karena kebetulan saya pernah membuat acara serupa di Semarang, dalam kesempatan tersebut saya share juga ke David.  Mulai dari rundown acara, alur kerja, serta konsep kerjasama yang menyangkut aspek ekonomi dan teknis.  Tinggal disesuaikan dengan kondisi yang ada di Manokwari.

Dalam perjalanan ini pula saya menjadi tahu kondisi sebenarnya terkait pengembangan minat baca.  Salah satu auktor penting dalam pengembangan minat baca di daerah adalah perpustakaan daerah.  Di Kabupaten Manokwari telah ada perpustakaan daerah.  Berdiri sejak tahun 2009.  Menempati gedung yang sebelumnya Kantor Departemen Penerangan.  Hanya saja sejak tahun 2009 tersebut hingga kini tidak ada kegiatan membaca dan meminjam buku di perpustakaan.  Apa pasal?  Karena ketiadaan tempat membaca.

Ironi!

Perpustakaan tidak memiliki ruang baca.  Akhirnya buku-buku yang ada tidak bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.  Baru sekitar akhir bulan Oktober lalu, Perpustakaan Kabupaten Manokwari memiliki ruang baca yang luasnya tak lebih dari dari 10 x 8 meter.  Itu pun setelah melalui perjuangan keras, dan sampai sekarang pun belum bisa difungsikan karena harus ada penataan ruang terlebih dahulu.

Di perpustakaan ini saya bertemu langsung dan terlibat diskusi yang cukup lama dengan kepala perpustakaan dan salah satu staf-nya.  Dari keduanya saya jadi paham atas kendala-kendala struktural dan kultural yang dihadapi.  Demi masa depan pengembangan budaya baca di Papua Barat pada umumnya dan Kabupaten Manokwari pada khususnya perlu kerjasama dengan stankeholder lainnya.  Mulai dari komunitas literasi, perguruan tinggi, masyarakat adat, media massa, tokoh masyarakat, dan terutama dukungan dari pemerintah.  Baik berupa dukungan politis maupun ekonomi atau anggaran.

Yang harus digagas adalah gerakan membaca bukan program membaca.  Ada perbedaan yang mendasar antara “gerakan” dengan “program”.  Perbedaan tersebut dapat dilihat dari bagaimana kita memandang suatu masalah dan saat menempatkan diri kita ketika memandang masalah tersebut.  Sebagai contoh:  “Minat baca masyarakat kita rendah, kami yang akan menyelesaikan persoalan tersebut.  Kami akan berusaha meningkatkan minta baca yang masih rendah itu.” Ini pendekatan program.

Sedangkan gerakan: “Minat baca masyarakat rendah, kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk bersama-sama untuk mengembangkan minat baca masyarakat yang masih rendah itu.”  Artinya yang menjadi titik tekan adalah partisipasi stakeholders,   inspirasi dan harapan terhadap akan lebih banyak lagi masyarakat yang terlibat menyelesaikan ihwal rendahnya minat baca tersebut.

Dari pembicaraan tersebut saya katakan kepada David dan pihak perpustakaan untuk diobrolkan lagi lebih lanjut tentang kemungkinan menggulirkan Gerakan Manokwari Membaca. Gerakan Manokwari Membaca merupakan langkah strategis untuk meningkatkan minat baca warga Manokwari khususnya dan Papua Barat pada umumnya.  Karena membaca menjadi kunci kemajuan.  Melalui aktivitas membaca bahan bacaan, ungkap Yasraf Amir Piliang (2011), seseorang akan menemukan logika di balik teks. Menemukan titik-titik kritis dan horizon-horizon yang terbuka.  Membaca adalah proses inovatif, yaitu membuka horizon bagi sesuatu yang baru (ide, gagasan, struktur, strategi, konsep, bentuk, relasi, klasifikasi), dengan menjadikan ide yang ditawarkan sebuah teks sebagai titik berangkat untuk memproduksi ide-ide yang lebih kaya atau berbeda.

Apa yang ditandaskan Yasraf, segendang sepenarian dengan yang pernah diungkapkan mantan Mendikbud era 1978-1983, Daoed Joesoef.  “Manusia sebagai perseorangan mungkin bisa bertahan hidup tanpa membaca, tanpa berbudaya membaca,” demikian ungkap penulis buku berjudul Emak ini.  “Namun sebuah demokrasi, lanjut Joesoef, hanya akan berkembang, apalagi survive, apabila para warganya adalah pembaca, dan individu-individu yang warganya merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar penggemar dan gemar berbicara.”

Gagasasan tentang Gerakan Manokwari Membaca ini juga saya utarakan saat malamnya bertemu dengan Pemimpin Redaksi koran Cahaya Papua.  Sempat terlontar pula ide untuk membuat kelas menulis untuk para pelajar dan mahasiswa.  Kelas yang didahului dengan materi penguasaan internet dan pemanfaatannya secara optimal untuk keperluan-keperluan yang dapat menunjang prestasi belajar serta penambahan kapasitas berfikir para pelajar dan mahasiswa.

Dari obrolan malam itu, terkuak pula bahwa perkembangan media massa di Papua Barat cukup menggembirakan.  Ditandai dengan terus bertumbuhnya industri media massa. Baik secara jumlah koran maupun serapan pasar atau oplag.  Bahkan Universitas Negeri Papua pun berencana membuka Fakultas Komunikasi, dan ilmu jurnalistik menjadi salah satu jurusannya.  Saya kira ini kabar menggembirakan.  Ibarat sebuah benih, betul-betul harus dicarikan lahan yang baik, disiram, dirawat, sehingga tumbuh, berkembah, yang kelak dapat berbuah dan memberikan kemanfaatan bagi berjalannya laju perkembangan Propinsi Papua Barat.

Dan itu semua bukanlah sesuatu yang di atas langit sana, tapi bisa diwujudkan.  Salah satu ukuran yang bisa saya ajukan, meskipun teman-teman di Manokwari menghadapi banyak kendala, di awal tahun 2013 berhasil meluncurkan kumpulan cerpen berbasis cerita lokal berjudul Impian di Tepi Bakaro.  Bahkan buku tersebut sampai diupacarai dan dirayakan di Jambore TBM 2014 di Serang, Banten serta masuk ke dalam salah satu buku long list Anugerah Pembaca yang diselenggarakan Goodreads Indonesia.●

 

3 thoughts on “Tiga Hari di Manokwari

  1. Di daerah daerah, terutama di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur keberadaan toko buku sangat kurang, kalo pun ada biasanya hanya berupa toko buku kecil dengan jumlah judul buku terbatas, dan itu pun biasanya digabung dengan toko peralatan tulis dan alat kantor. Toko buku mainstream biasanya hanya ada di ibukota propinsi saja.

    Sebagai contoh: di daerah kelahiran saya Kota Singaraja, Kab. Buleleng, Bali tidak ada toko buku besar semisal Gramedia atau pun Gunung Agung (maaf terpaksa sebut nama toko). Untuk mencari buku di toko buku yang memiliki koleksi lengkap maka masyarakat harus pergi ke kota Denpasar.
    Ironisnya toko Handphone dan pulsa ponsel yang besar dengan koleksi handphone-handphone terbaru justru lebih banyak dan mudah ditemui dibandingkan toko buku.

    Semoga saja dengan penetrasi internet yang begitu pesat melalui smartphone bisa mengisi ceruk kosong kurangnya bahan bacaan di daerah-daerah.

    Salam hangat,
    Manji Dharsana

  2. iya mas manji. semula saya berharap revolusi mental dalam konteks nawa cita salah satu nya melalui pemajuan perbukuan dan gerakan budaya membaca. sulit kalau pemerintah pusat tidak menjadi penggerak utama upaya mengurangi kesenjangan perbukuan di Indonesia. Terutama di Indonesia Timur. Btw, thanks ya mas. Udah mampir. Mas Manji masih nulis kan? Semoga. Hehe.

  3. Saya suka dengan uraian ini.: Melalui aktivitas membaca bahan bacaan, ungkap Yasraf Amir Piliang (2011), seseorang akan menemukan logika di balik teks. Menemukan titik-titik kritis dan horizon-horizon yang terbuka. Membaca adalah proses inovatif, yaitu membuka horizon bagi sesuatu yang baru (ide, gagasan, struktur, strategi, konsep, bentuk, relasi, klasifikasi), dengan menjadikan ide yang ditawarkan sebuah teks sebagai titik berangkat untuk memproduksi ide-ide yang lebih kaya atau berbeda. Semoga gerakan minat baca segera terealisasi ya pak, terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>