Kerupuk

Lomba-lomba-Lucu-di-Kemerdekaan-17-Agustus-2015-makan-kerupuk
:: Agus M Irkam

Apa hubungan antara lomba makan kerupuk dengan kemerdekaan? Lewat pintu mana kita jadi bisa memahami kaitan antara bermain bola pakai sarung, panjat pinang belepotan oli, balap karung, bawa kelereng di sendok dan lomba memasukkan paku ke dalam botol dengan pembangunan. Tidak adakah bentuk lain dari perayaan hari kemerdekaan selain dengan kegiatan lomba yang “remeh temeh semacam itu?”

Makna kemerdekaan yang paling substantif adalah adanya kebebasan untuk berkehendak (free to will). Kebebasan untuk melakukan sesuatu yang transenden dan besar maupun sebaliknya, profan dan tidak penting. Lomba makan kerupuk dan lomba-lomba lainnya adalah ungkapan dari free to will itu. Bukan kemenangan yang mereka cari sehingga kalau kalah lantas menggugat panitia lomba. Dalam lomba makan kerupuk dan sejenisnya tidak akan pernah muncul sangkaan lomba berjalan penuh rekayasa yang terstruktur, sistematis dan masif yang oleh karenanya rewel terus minta lomba diulang. Bukan hadiah yang mereka incar sehingga sebelum ikut lomba harus berhitung untung rugi.

Dapat mengikuti lomba adalah kemenangan tersendiri. Kebersamaan dan kegembiraan adalah hadiah paling indah yang langsung bisa mereka terima dan rasakan. Bahagia itu sederhana. Harga tawa keceriaan itu begitu murah. Bahkan gratis. Asyiknya yang kalah dan menang bisa saling menertawakan. Kerupuk adalah wujud lain dari keindonesiaan kita. Makanan ini selayaknya bahasa Indonesia telah diterima sebagai makanan persatuan. Meski tanpa ada ikrar tertulis dan lisan.

Ia merupakan representasi tentang “menjadi Indonesia” yang mengatasi semua bentuk imaji rakyat di negeri ini. Melampaui batas teritori, kesukuan, agama, kelompok dan golongan. Tidak mengenal lagi antara yang santri dan abangan. Tidak relevan lagi menghadirkan masyarakat kelas atas, menengah dan bawah dalam arena pertarungan yang saling meniadakan. Semua disatukan oleh kerupuk keindonesiaan.

Lantas ada sebagian masyarakat terdidik yang mempersoalkan bahwa beragam lomba itu sebagai bentuk pengaburan terhadap makna sejati perjuangan mencapai kemerdekaan. Selintas sak wasangka itu benar. Tapi kalau mau ditelisik lebih dalam sangkaan itu salah. Selalu ada afirmasi dan justifikasi terhadap sesuatu yang punya nilai dapat membahagiakan banyak orang. Apalagi kebahagiaan tersebut bersifat partisipatif.

Sah-sah saja dong kalau saya katakan lomba makan kerupuk itu punya makna simbolik berupa optimisme berjuang demi kesuksesan hidup. Meskipun kedua tangan terikat dan kerupuk yang gantung tali rafia itu digoyang-goyang terus sehingga mulut akan bergerak kesana kemari mengikuti arah lari kerupuk.

Meski ada kesan kurang kerjaan, tentu masuk akal juga kalau panjat pinang penuh olesan oli itu saya simpulkan sebagai sebuah metafora tentang pohon cita-cita yang untuk sampai puncaknya harus betul-betul diperjuangankan bersama-sama. Yang berada di bawah tidak merasa tertindas. Sedangkan yang di atas setelah sukses meraih puncak pun tidak lupa diri dan merasa jemawa. Pada titik ini, panjat pinang adalah pelajaran penting buat para pemilik kuasa politik (politisi) dan kebijakan (birokrat) yang sering kali menerapkan strategi belah bambu.

Sayangnya kita terlalu sering melihat segala sesuatu dari citra luarannya. Sehingga banyak hal hikmah hidup yang didedahkan oleh masyarakat gagal kita tangkap sebagai sebuah pelajaran penting.‚óŹ

image >> www.muudu.com

One thought on “Kerupuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>