Sumber Bahagia di Belakang Rumah Kita

gambas

:: Agus M Irkham

Sesungguhnya untuk bahagia anak-anak tidak selalu memerlukan tempat dan wahana yang bersifat artifisial dan harus keluar rumah. Belakang rumah kita bisa menjadi sumber bahagia yang tak habis-habis. Misalnya melalui kegiatan berkebun dan berternak. Tidak harus besar dan luas. Karena yang kita tuju bukan skalanya tapi sisi praktis/proses dan substansi yang ada di dua kegiatan tersebut.

Berkebun. Menanam sayur, merawat dan menyiraminya sehingga sayur- tumbuh besar. akan memberikan pengertian kepada anak-anak tentang proses. Tanam-tanaman tumbuh tidak dengan tergesa-gesa. Dari alam, banyak pelajaran kehidupan penting yang dapat mereka petik. Dan mereka menjadi bagian dari proses berlangsungnya pembelajaran tersebut. Mereka juga jadi sadar betapa pentingnya peran air dalam kehidupan. Tidak hanya berguna untuk manusia, tapi juga sangat bermanfaat untuk tumbuhnya tanam-tanaman.

Tanah, air dan udara adalah unsur penting dalam kehidupan. Menjaganya ketiganya sama dengan menjaga kualitas hidup yang kita jalani. Maka, pelajaran penting pertama yang seyogianya diberikan kepada anak-anak kita saat di rumah adalah bagaimana menjaga lingkungan yang terdiri atas tanah, air dan udara tersebut agar terjaga kualitasnya. Dan berkebun menjadi salah satu bentuk aksinya.

Sama halnya dengan berternak juga memberikan suka, bahagia, tawa dan pembelajaran yang penting bagi anak. Pada suatu hari, sekitar 6 bulan lalu sepulang dari pasar saya membawa sepuluh ekor anak ayam. Begitu sampai rumah, anak-anak langsung heboh berebut ingin memegang. Mereka langsung sibuk menyiapkan kadang yang sebelumnya telah saya beli. Lantas satu persatu anak ayam tersebut dengan penuh kehati-hatian dipindahkan ke dalam kandang. Tanpa saya suruh, mereka berinisiatif membagi kesepuluh anak ayam itu ke dalam dua kandang. Jadi masing-masing kadang berisi lima ekor.

Keriangan tidak hanya berhenti di situ. Malamnya, terdengar suara: “Ayam, ibumu ada di mana? Jangan takut ya.” Rupanya itu celoteh anak saya yang baru berusia 3 tahun di depan kandang. Dan sejak itu, anak-anak selalu bersemangat bangun pagi. Mereka ingin segera menyapa ayam-ayamnya lengkap dengan nama panggilan masing-masing.

Dari kejadian tersebut, saya tersadar ternyata memelihara hewan—khusus untuk saya, memelihara ayam—bisa mengembangkan emosi anak. Mereka mendadak jadi “cerewet” bermain peran dengan menyapa dan menanyai ayam-ayam. Bahkan tidak hanya terbatas pada membuat anak menjadi sangat komunikatif, tapi ada beberapa manfaat lainnya juga.

Saya mencatat paling kurang ada enam hal penting yang bisa diperoleh anak-anak ketika mereka memelihara ayam. Mulai dari rasa empatinya menjadi terasah, memberikan ruang kreasi pada buah hati kita untuk memberikan nama sesuai ciri masing-masing ayam, melatih motorik halus anak, kecerdasan naturalis anak-anak menjadi kian terasah, memunculkan rasa syukur hingga dapat memberikan pelajaran kepada anak tentang kategorisasi. Bahwa tiap hewan mempunyai jenis makanan, bentuk kandang, dan kebiasaan masing-masing. Dari tiap-tiap kebiasaan yang berbeda tersebut mereka dapat belajar.

Dengan demikian, betul kata banyak orangtua, bahagia itu sangat dekat. Ia tidak perlu dicari di luar diri kita. Karena ia sudah ada di dekat dan bersama kita. Yaitu rumah atau keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>