Lima Cara Mengakrabkan Buku pada Anak

Mother and Daughter Reading Together --- Image by © Royalty-Free/Corbis

Mother and Daughter Reading Together — Image by © Royalty-Free/Corbis

:: Agus M. Irkham

Meskipun belum belajar membaca dan menulis, anak-anak seyogianya sudah diperkenalkan dengan bacaan, terutama buku sedari usia balita. Agar ketika mereka telah memasuki usia Sekolah Dasar, saat mulai belajar mengenal huruf dan angka, sudah akrab dengan buku sebagai tempat huruf dan angka berhimpun. Fokus mengenalkan buku pada anak-anak usia PAUD adalah menyapakan buku dari sisi fisik dan isinya melalui pembacaan yang dilakukan guru dan orangtua.

Upaya mengakrabkan buku pada anak-anak PAUD tidak hanya dapat dilakukan oleh guru dan para orangtua masing-masing, tapi juga dapat dilakukan secara kelembagaan, yaitu institusi PAUD itu sendiri. Lantas bagaimana caranya?

Pertama, membuat Selasar Baca. Yaitu satu ruang di selasar atau teras yang secara khusus digunakan untuk ruang baca. Baiknya penggunaan istilah “Pojok Baca” atau “Sudut Baca” dihindari. Karena nama itu memberi pengertian yang kurang menguntungkan. Yaitu pojok-terpojok, sudut-tersudut. Dan secara ketata-ruangan, sesuatu yang terletak di pojokan atau sudut ruang, bias any adalah benda yang tidak penting. Agar Selasar Baca menarik, buat secara khusus rak buku yang menarik, baik dari bentuknya maupun dari segi warnanya. Tidak harus dengan bahan kayu mahal, tapi bisa dengan bahan bambu yang dibelah dua lantas disambungkan dengan tali. Sehingga rak buku menjadi bagian interior ruang yang akan memperindah suasana.

Kedua, lengkapi Selasar Baca dengan beragam buku menarik dan bermacam alat permainan edukatif. Untuk menjaga agar buku awet, pilihlah buku anak yang tercetak dalam kertas tebal atau karton. Bisa juga dilengkapi dengan buku kain, yaitu teks dan gambar yang tercetak di atas lembaran-lembaran halaman terbuat dari kain. Tema buku dapat berupa seri life skill, misalnya “Aku Bisa Pipis Sendiri”, “Aku Tidak Ngupil Sembarangan”, atau seri Fabel (kisah binatang).

Ketiga, Selasar Baca dapat dimanfaatkan para orangtua yang menunggu putra-putrinya. Sehingga mereka dapat menggunakan waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat. Cara ini berguna pula untuk merangsang para orangtua agar memiliki kebiasaan membaca di rumah. Sehingga ketika di rumah, pada saat anak-anak ingin dibacakan buku, para orangtua sudah bisa melakukannya. Dengan demikian ada keberlanjutan antara yang diajarkan para guru di PAUD dengan yang berlangsung di rumah.

Keempat, sebaik apapun Selasar Baca, ruang yang penuh warna dan buku yang bagus, tidak akan terlalu bermanfaat jika tidak diikuti dengan kegiatan yang membuat anak-anak senang menggunakan ruang tersebut. Kegiataan membaca lantang atau read aload dapat menjadi pilihan. Yaitu kegiatan membacakan isi buku secara interaktif dan atraktif kepada anak-anak. Siapa yang membacakan? Bisa guru, bisa juga para orangtua.

Kelima, guna menambah keragaman koleki bacaan, guru maupun orangtua secara pribadi dapat berpartisipasi menambah koleksi bacaan. Sehingga ada partisipasi dalam mengembangkan Selasar Baca. Penambahan koleksi tidak harus dengan membeli tapi bisa dengan membuat sendiri. Misalnya buku hasil kliping cerita anak di majalah, atau cerita tentang keindahan tempat pariwisata, bisa juga buku berisi kisah pengalaman sehari-hari saat mengurus anak-anak. Agar menarik, buku dapat dilengkapi dengan ilustrasi gambar.

Cara kelima ini, secara tidak langsung akan menimbulkan rasa memiliki Selasar Baca di hati para orangtua. Mengakrabkan buku pada anak-anak tidak hanya menjadi tanggungjawab pengelola PAUD tapi juga orangtua.

image : laman anggun paud.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>