Mata, Cinta dan Terang Semesta

COVER_Mata Cinta dan Terang Semesta
:: Agus M. Irkham

Sabtu, 20 Mei lalu di auditorium Istiantoro, RS. Mata Jakarta Eye Center, Kedoya buku biografi terbaru saya: Mata, Cinta dan Terang Semesta diluncurkan. Buku yang berkisah tentang sosok dr.Vidyapati Mangunkusumo, SpM dalam ikhtiarnya mengurangi kebutaan di Indonesia ini saya tulis cukup lama. Sekitar 15 bulan.

Banyak hal yang harus saya lakukan untuk menyelesaikan buku yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia ini. Mulai dari mewawancarai tak kurang dari 20 orang sebagai sumber materi primer. Mengkurasi lebih dari 2000 ribu foto—untuk mendapatkan 52 foto terbaik dan kontekstual dengan isi buku. Mengikuti baksos operasi katarak di Cilegon dan Pelabuhan Ratu, untuk mendapatkan impresi atau kesan kuat bagaimana suatu baksos operasi katarak dilakukan. Termasuk berziarah ke makam keluarga besar dr.Cipto Mangunkusumo—PakDe-nya dr. Vidyapati di Ambarawa, Jawa Tengah yang juga menjadi makam bapak Darmawan Mangunkusumo, ayah dr.Vidyapati. Selain “meminta izin”, mendoakan juga memotret beberapa bagian dari makam yang saya gunakan sebagai materi buku.

Saya mengibaratkan menulis layaknya melukis. Saya ingin, setiap tarikan garis, sapuan kuas dan tempaan warna yang membentuk suatu lukisan seluruhnya saya yang melakukan. Keseluruhan diri saya harus turut hadir. Itu sebab mungkin dari sisi produktifitas, saya tergolong kering. Setahun paling hanya menulis 1 buku biografi. Sebelumnya saya lebih banyak menulis esai dan artikel. Sejak tahun 2013 saya mulai menulis biografi. Ada tiga ragam bahasa Indonesia yang saya gunakan saat menulis biografi. Yaitu bahasa jurnalistik yang lebih mengedepankan pemahaman pembaca, bahasa ilmiah yang lebih menekankan aspek akurasi data dan dapat diuji kembali secara akademik apa yang telah ditulis (data, pernyataan, rujukan) serta bahasa sastra yang lebih menitikkan beratkan pada keindahan, rasa, situasi, keadaan dan drama dalam suatu tulisan.

Bersama dr. Vidyapati Mangunkusumo dan editor buku ini, dr. Nies Endang Mangunkusumo

Bersama dr. Vidyapati Mangunkusumo dan editor buku ini, dr. Nies Endang Mangunkusumo

Sudut pandang pencerita—saya lebih memilih sudut pandang orang pertama. Menggunakan kata saya. Jadi buku yang saya tulis adalah buku biografi dengan teknik penceritaan autobiografi. Pertimbangannya selain lebih optimal saat mengeksplorasi hal-hal yang sifatnya personal, para pembaca juga merasa dekat. Karena seolah-olah sosok itu sendiri yang langsung bercerita. Berbeda jika saya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Menggunakan kata ganti ia, beliau atau dengan menyebut nama. Saat membacanya kok saya merasakan ada jarak. Dan rasa bukunya tidak lagi sebagai buku biografi tapi terasa lebih sebagai laporan jurnalistik semata. Tapi ini soal pilihan dan strategi menulis saja. Tiap orang bisa berbeda. Beda pilihan, beda pertimbangan.

Apa syarat bagi sosok yang ingin saya tulis kisah hidupnya?

Ia haruslah memperjuangkan nilai (value). Bukan karena alasan-alasan yang bersifat jangka pendek, dalam rangka kepentingan politik misalnya, atau alasan-alasan yang sifatnya personal-individual-narsistik. Indonesia kita ini membutuhkan lebih banyak lagi narasi-narasi positif. Kisah-kisah laku hidup orang yang sibuk melakukan kebaikan hingga tidak ada celah baginya untuk menilai orang lain. Jika kualitas peradaban itu ibarat sebuah bangunan rumah, maka diperlukan banyak batu bata untuk membangun rumah tersebut. Adalah tugas masing-masing kita untuk ambil bagian membawa batu bata itu dan meletakkan-menyusunnya di bangunan rumah peradaban tersebut. Tidak dengan melolosinya sata per satu melalui narasi-narasi negatif yang terus diproduksi.

Dari kiri ke kanan: Bapak Panji dan Bapak Wandi S. Brata (Yayasan MATAHATI), Bapak Irwan Hidayat (SIDO MUNCUL), dr. Vidyapati, dr.Ruth dan dr. Hengki (Yayasan Buddha Tzu Chi)

Dari kiri ke kanan: Bapak Panji dan Bapak Wandi S. Brata (Yayasan MATAHATI), Bapak Irwan Hidayat (SIDO MUNCUL), dr. Vidyapati, dr.Ruth dan dr. Hengki (Yayasan Buddha Tzu Chi)

Sebagai generasi muda, saya membutuhkan narasi-nasari positif tentang keindonesiaan itu dari generasi-generasi sebelum saya. Jika mereka tidak mau berbagai (sharing) bagaimana saya dan Anda belajar. Di zaman ketika kita sulit mendapatkan contoh sosok yang punya integritas, sosok-sosok yang sudah selesai dengan dirinya, kehadiran generasi senior yang telah tercerahkan ini, mulai dari hati, pikir dan laku hidup kesehariannya menjadi sangat penting. Terlebih di era kebebasan berkomentar ini—yang lama-lama tanpa disadari melahirkan praktik-praktik verbalism (seolah-olah telah mengerjakan banyak hal) sekaligus kehilangan cermin bagi hidup diri si komentator: setiap apa yang ada di luar dirinya nampak salah. Pusat kebenaran adalah dirinya sendiri.

Hidup ini terlalu singkat untuk sekadar menjadi komentator yang ironinya kelak Tuhan tidak akan mempertanyakannya lantaran apa yang kita sak wasangkai itu di luar wilayah tanggung jawab kita. Semoga melalui apa yang saya tekuni ini, yaitu menulis biografi menjadi sarana tawaf saya. Ia tidak saja sebuah gerak horizontal yang berorientasi pada fisik, materi dan pengdakuan, tapi berkembang menjadi gerak vertikal—bertumbuhnya peran diri dalam kehidupan sosial. Karena letak bertumbuhnya manusia bukan pada luasanya penjelajahan ruang dan pencapaian materi (karya), tapi tanggung jawab sosial yang sanggup diembannya. Pada titik itu kegundahan akan sirna. Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial, ungkap Goenawan Mohamad.

Kata banyak orang, buku yang baik tidak hanya mengandung informasi dan pengetahuan, tapi juga menginspirasi. Mampu menggerakkan orang untuk melakukan kebaikan. Buat saya pribadi, inspirasi saja tidak cukup. Tapi harus disertai pula dengan guidance, bagaimana caranyanya kebaikan itu dilakukan. Di buku Mata, Cinta dan Terang Semesta ini, secara khusus dr. Vidya menuliskannya di Bab 7 tentang bagaimana caranya tiap kita, para pembaca jika ingin terlibat dalam upaya penanggulangan buta katarak di Indonesia.

Menerima bingkisan ucapan terima kasih dari dr. Nies Endang Mangunkusumo.

Menerima bingkisan ucapan terima kasih dari dr. Nies Endang Mangunkusumo.

Tanpa upaya bersama, maka ancaman tsunami katarak bisa benar-benar terjadi di Indonesia. Kita adalah negara dengan angka kebutaan tertinggi di Asia. Tak kurang dari 1,5 persen dari total penduduk, dengan 53 persennya disebabkan oleh katarak. Setiap tahun diperkirakan bertambah sekitar 240 ribu penderita katarak baru.

Sebagai penutup, saya ucapkan selamat membaca buku ini. Melalui kehadiran buku ini, semoga hidup saya, Anda dan kita semua semakin dipenuhi rasa cinta yang tak berwatas. Membuat mata batin kita kian tajam nan bercahaya. Karena hanya dengan itu, harmoni dan kebahagiaan hidup ini dapat terselenggara.<>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>