Agar Si Ceriwis Gemar Menulis

nulis

:: Agus M Irkham

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dalam keseharian hidup mereka, umumnya dipenuhi dengan gelak tawa ceria, canda gembira, serta ceriwis. Mereka banyak bertanya tentang segala sesuatu yang dilihat. Ceriwis ini menjadi bukti mereka memiliki dorongan yang sifatnya instingtif untuk mengetahui segala sesuatu. Dari kebiasaan mereka bertanya ini dan itu tersebut dapat kita arahkan pada aktivitas membaca dan menulis.

Kali ini, saya akan memberikan beberapa tips atau kiat bagaimana caranya agar anak-anak memiliki kebisaan menulis dan pada akhirnya suka atau gemar menulis. Bukan dalam rangka agar mereka menjadi penulis. Tapi menulis sebagai akvitas pribadi yang dapat memberikan kemanfaatan bagi perkembangan intelektual dan terutama mental-psikologis anak-anak.

Pertama, berikan buku tulis kepada mereka agar dijadikan sebagai buku harian atau diary. Bebaskan anak-anak untuk menuliskan segala sesuatu yang mereka temui, rasakan dan harapkan. Fokus kita bukan pada banyak atau sedikitnya anak-anak menulis di diary, tapi pada keberanian mereka untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran mereka dalam bentuk tulisan. Ukuran dan ketebalan buku tulis yang dijadikan diary dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Ada baiknya saat membelinya, mereka diajak dan kita minta untuk memilihnya sendiri.

Kedua, mengisi TTS atau teka-teki silang. Sekarang sudah banyak tersedia buku TTS untuk anak-anak. Buku tersebut telah disesuaikan dengan kemampuan terjauh anak-anak dari sisi pengetahuan (kognitif) maupun jangkauan pemahaman bahasa. Mengisi TTS akan membuat anak-anak belajar mencari dan mengira-kira lebih dari satu pilihan jawaban untuk satu pertanyaan. Saat menuliskan huruf demi huruf di kotak-kotak yang tersedia mereka jadi belajar tentang akurasi huruf. Kesalahan satu huruf saja bisa bermakna berbeda dan menyebabkan jawaban tidak klop dengan jawaban pertanyaan antara yang mendatar dan menurun. TTS bisa menjadi sarana belajar menulis sambil bermain. Keberhasilan menjawab satu demi satu TTS menjadi pencapaian yang menggembirakan bagi anak-anak.

Ketiga, mengkliping koran dan majalah. Yaitu menempel berita atau tulisan di koran dan majalah di kertas dengan terlebih dahulu membuat kategori atau tema kliping. Misalnya tentang olahraga, dunia hewan, atau tentang alat transportasi. Hanya saja, kegiatan mengkliping ini seyogianya harus disertai pula dengan memberikan komentar atau analisis sederhana berupa tulisan atas materi klipingan tersebut. Dari sini, anak-anak diajak untuk terbiasa melakukan pengamatan, mengemukakan pendapat atau pandangannya dalam bentuk tulisan.

Keempat, sesekali ajaklah anak-anak keluar kelas. Bebaskan mereka memilih tempat yang mereka sukai di area sekolah. Bekali setiap anak dengan kertas. Minta mereka untuk menulis apa yang dilihat dan dirasakan. Bisa tentang gedung sekolah yang tinggi, rumput di depan kantor kepala sekolah yang kering, tentang bebatuan di samping taman, atau tentang tingkah salah satu temannya yang sedari tadi mengelap ingusnya lantaran sedang pilek. Jadi pelajaran mengarang tidak harus di dalam kelas terus menerus.

Kelima, beri kesempatan anak-anak menulis surat pribadi kepada orang-orang terdekatnya. Bisa ke kakek-neneknya, ke om dan tantenya atau ke teman sekelasnya dulu yang kini sudah pindah sekolah karena ayahnya harus pindah tempat kerja di kota lain. Meskipun sekarang sudah ada beragam social media, perlu dicoba untuk menulis dengan tulisan tangan langsung atau written text dan dikirim melalui Pos.

Cara ini dulu lazim disebut sebagai korespondensi dengan sahabat pena. Mengapa written text? Karena kesan khusus dan personal lebih kuat ketimbang melalui email atau whatsapp. Melalui tulisan tangan, kita bisa merasakan yang menulis seperti benar-benar hadir di dekat kita.

Kegiatan menulis untuk si Ceriwis harus diarahkan pada upaya melakukan penjelajahan, penguraian dan pemahaman diri (self digesting). Membuat anak-anak berani membuka diri. Hingga memampukan mereka mengenali segi-segi unik yang melekat pada dirinya. Oleh Hernowo, penulis buku Mengikat Makna, secara mudah self digesting dapat dipahami sebagai sesuatu yang akan memampukan anak-anak untuk merumuskan diri setahap demi setahap. Hingga mereka akan diantarkan menuju sebuah wilayah yang mengajak mereka untuk mengenal diri mereka lebih baik. Hasil akhir dari penjelajahan diri melalui aktivitas menulis adalah: kebahagiaan.⦁

image: wikipedia.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>