Benar dan Salah

right_wrong

:: Agus M. Irkham

“Kanda Kumbokarno, mengapa kanda bersedia memimpin pasukan Alengka, yang kanda tahu adalah para angkara murka? Padahal jelas, jika tentara yang kanda pimpin menang, pasti akan membawa bencana kemanusiaan. Segeralah kanda bergabung bersama kami, pejuang kemanusiaan,” ucap Wibisono kepada Kumbokarno kakaknya. Keduanya adalah adik Rahwana. Saat itu Alengka diserbu Rama—membebaskan Shinta dari sekapan Rahwana.

“Adinda, yang murka adalah Dasamuka (Rahwana) bukan Alengka. Membela Alengka adalah kewajibanku sebagai prajurit dan warga negara. Aku sedang menerima kepercayaan dari para prajurit untuk memimpin mereka. Itu lebih baik, daripada setelah menikmati kemuliaan di Alengka, kemudian melarikan diri sewaktu Alengka mengalami kemunduran dan menjelang hancur. Aku berperang tanpa ada rasa permusuhan, hanya semata-mata menjalankan kewajiban,” jawab Kumbokarno.

Akhirnya kedua adik Rahwana itu bertempur untuk dua kepentingan. Kumbokarno untuk kerajaan Alengka, sedangkan Wibisono untuk kepentingan Rama.

Dari ilustrasi mitologi Hindu di atas, lantas timbulah perselisihan pendapat, yang benar Kumbokarno atau Wibisono. Dari segi kepentingan Alengka, Wibisono telah berkhianat karena berperang untuk kubu Rama, bahkan membocorkan rahasia kelemahan pasukan Alengka.

Betul begitu?

Nanti dulu. Bukankah dengan membela Rama berarti Wibisono sedang memperjuangan kebenaran. Karena apa pun alasannya membawa lari istri orang adalah perbuatan tercela. Biarpun karena saking cintanya Rahwana kepada Shinta, bertahun-tahun di Taman Asoka, Shinta tidak diapa-apain. “Duh, cinta yang suci!” komentar para platonik. “Wah, kalau itu sih Rahwana-nya saja yang bodoh, naif,” sela para kaum pragmatik.

Lantas bagaimana dengan Kumbokarno. Dengan ikut berperang membela kerajaan Alengka, apakah lantas bisa kita disimpulkan bahwa ia gelap mata, tidak bisa membedakan perbuatan yang salah dan benar. Jika begitu, apakah membela tanah airnya karena diserang pihak luar itu justru suatu kesalahan? Pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan?

Oposisi biner
Dari kisah Rahwana, Kumbokarno dan Wibisono tersebut kita dihadapkan pada satu subjek diskusi tentang benar (right) dan salah (wrong). Keduanya—selama masih berada di bawah langit dunia—bersifat relatif. Tergantung situasi (keadaan), kondisi serta dari sudut mana (perspektif) atas fakta tersebut. Dengan demikian kita tidak akan terjebak pada pemutlakan kadar kebenaran/kesalahan. Karena pemutlakan hanya akan menghasilkan hubungan yang saling meniadakan. Yang berlangsung kemudian adalah relasi oposisi biner. Oposisi biner (binary opposition) secara sederhana, dapat diartikan sebagai sebuah sistem yang berusaha membagi dunia dalam dua klasifikasi yang berhubungan secara struktural dan bersifat kontradiktif. Saling menegasi.

Kalau bukan kawan maka pasti lawan. Jika bukan pencinta (lovers), pasti pembeci (haters). Yang ada adalah “aku” dan “kamu”. Kalau bukan “kami” pasti “kalian”. Kata “kita” menjadi barang mewah terakhir yang paling sulit didapatkan.

Itulah yang terjadi di negeri kita (terutama) tiga tahun terakhir ini. Pemutlakan kadar benar dan salah memunculkan ekstrimitas. Pengutuban. Wujudnya bisa berupa kejumudan sikap radikalisme (agama) maupun liberalisme (gaya hidup)—yang keduanya sama-sama mengandung mekanisme penghacuran atas dirinya sendiri (self destroying). Selain matinya akal sehat seperti yang nampak pada Denny Siregar dan Jonru. Yang satu mengatakan Jokowi selalu benar. Satunya menyatakan Jokowi selalu salah. Padahal tidak ada pemerintah (presiden) yang selalu benar atau selalu salah.

Meskipun demikian, atas nama kedaifan, relativisme benar salah juga tidak boleh ditempatkan pada timbangan yang mutlak pula. Karena bisa mengarah kepada nihilisme. Sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki pandangan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Semua dianggap biasa atau sama saja. Tidak ada lagi ukuran benar dan salah. Akibatnya, kita menjadi abai terhadap ukuran-ukuran umum keadaban. Akhirnya kita jadi sangat sulit menghargai hasil kerja atau karya pihak lain. Sebaliknya, tak acuh terhadap kondisi yang mestinya memerlukan saran dan kritik.

Lantas bagaimana jalan tengahnya?

Ruang sosial
Kita memerlukan lebih banyak lagi ruang-ruang sosial bagi berlangsungnya diskusi-diskusi yang bersifat partisipatif, menghargai perbedaan pendapat dan berjarak dengan tendens politis, minimal mengambang (floating mass). Hari-hari ini, kita mestinya lebih banyak berusaha mencari titik temu bukan titik beda. Kita seharusnya lebih sering mencari persamaan (diskusi) bukan mempertajam perbedaan (debat). Dan Indonesia hari ini, kehilangan semangat diskusi tersebut. Baik di layar televisi, terlebih di sosial media.

Kita memerlukan suasana-suasana obrolan warung kopi yang dapat membicarakan banyak hal secara gembira. Sehingga usai warung tutup dan bubar, orang-orang melangkah pulang dengan kaki ringan dan pikiran terang. Esok hari menjadi hari yang selalu baru.

Seyogianya kita tidak membangun kesempurnaan atas seorang tokoh atau suatu kelompok tertentu. Karena hasil paling jauh dari kesempurnaan diri hanya puja puji kekaguman yang besar kemungkinan kemudian bermetaforfosis menjadi otoritarian. Sebaliknya, kita lebih membutuhkan kesadaran atas kekurangan sehingga harapannya akan melahirkan ajakan pada pihak lain untuk melakukan perbaikan bersama. Inilah spirit gerakan (movement). Tanpa itu, maka kita akan larut terus menerus dalam kegaduhan. Sensitifitas dan kemampuan untuk melakukan intropeksi diri juga akan semakin menipis dan lambat laun hilang. Pada titik itu, yang akan muncul hanya ada dua pasal. Pasal satu, (kelompok/pendapat) saya pasti benar. Pasal dua, jika saya salah, kembali ke pasal satu. <>

image: google.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>