Habis Baca Terbitlah Gelap

gelap-cute1

: Agus M. Irkham

Ketika saya berada di toko buku, satu hal yang selalu muncul dalam benak saya adalah betapa (nikmat) ilmu Allah Swt itu sangat luas sekali. Sepenuh rak menuliskannya. Dan itu belum cukup. Saya menjadi teringat “tantangan” dari Allah Swt kepada hambanya, jika air laut digunakan sebagai tintanya, sampai laut itu mengering, tak cukup untuk menuliskan karuniaNya. Meskipun ditambah lagi satu samudera dengan air yang sama penuh.

Dengan demikian, buku, teks, sesungguhnya hanya bagian dari sedikit representasi sifat kekuasaan, karunia dan ilmu Allah. Oleh karena itu, seorang pembaca teks, mestinya dapat menemukan kesadaran yang bersifat ketuhanan atau transenden. Sejak awal telah menyadari bahwa puncak dari tujuan kegiatan membaca adalah meningkatnya rasa penghambaan terhadap Allah.

Bentuk rasa penghambaan tersebut, yang paling mendasar bagi seorang muslim adalah melaksanakan sholat wajib sehari semalam sebanyak lima waktu. Saya tidak habis mengerti, jika ada seorang muslim yang suka membaca, bahkan menasbihkan dirinya sebagai pegiat literasi, tapi justru dalam praktek hidup kesehariannya ia menegasi sumber utama literasi tersebut: Allah. Yaitu dengan tidak mengerjakan sholat wajib. Hal itu serupa dengan ia membaca (iqra) dengan menanggalkan nama Tuhannya.

Ketekunannya membaca tidak lagi melahirkan pencerahan, tapi sebaliknya justru kegelapan. Setiap hari ia menegasi peran Tuhannya sebagai sumber dari segala sumber teks yang setiap hari ia baca tersebut. Dan rupa-rupanya kegelapan tersebut bisa merembet pada pandangan hidup dan tindakan-tindakan yang berdimensi sosial kemasyarakatan. Misalnya, seseorang bisa menjadi sedemikian peduli terhadap hal-hal yang jauh dari jangkauannya. Baik dari sisi jarak maupun tanggung jawabnya.

Yang kemudian berlangsung adalah pertama, menganggap kegiatan berfikir yang mendalam tentang nilai-nilai spiritual bukan sesuatu yang penting. Wilayah hidupnya hanya terdiri dari yang fisik dan material. Berupaya melakukan transformasi sosial yang dilepaskan dari bingkai agama/spiritual. Yang penting kerja.

Kedua, proses iqra yang menanggalkan asma Tuhannya akan membuat seseorang jadi lupa yang dekat—peran yang menjadi tanggung jawabnya. Ia cenderung riuh mengomentari apa saja. Misalnya tentang isu-isu nasional yang berseliweran di social media. Ia jadikan sebagai tema kritik, sindir, nyinyir, bully, dan sanjung. Dan seluruhnya itu telah mengambil sebagian (besar) waktunya yang semestinya bisa digunakan untuk berinteraksi dengan keluarga dan tetangga.

Ketiga, membaca tanpa ada kesadaran berketuhanan hanya akan membuat seseorang jadi tidak fokus, lupa jalan dan salah tujuan. Karena sejauh yang saya pahami Tuhan meminta pertanggung jawaban kita, hanya terbatas pada fasilitas yang kita miliki. Tentang orangtua kita, keluarga inti, kerabat, tetangga dan seterusnya. Jangan sampai kita memaksakan diri mengambil tanggung jawab yang oleh Tuhan bukan untuk kita.

Sesungguhnya tujuan membaca bukan untuk mencapai kesempurnaan diri (mengambil semua bentuk tanggung jawab), melainkan agar diri kita bisa pertama, mengenali diri. Menyadari betapa Tuhan telah memberikan piranti hidup yang melekat pada tubuh kita secara sempurna dan gratis. Hasil dari sadar diri ini adalah rasa syukur. Bukan rasa syukur yang bersyarat. Yaitu rasa syukur yang diperoleh setelah membandingkannya dengan orang lain, dan kita merasa lebih baik. Bukan itu. Tapi rasa syukur yang tak bersyarat. Bahwa kita diberi kesempatan untuk hidup.

Setelah mengenali diri, lantas menyadari fasilitas yang melingkupi hidup kita. Tiap kita selain sebagai makhluk individu, juga makhluk sosial. Maka kecenderungan untuk selalu bersama dan berkomunikasi dengan orang lain tidak bisa diingkari. Karena itu, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menjadi bagian dari ekosistem lingkungan kita menetap. Sadar fasilitas menghasilkan pemahaman yang baik tentang potensi-potensi yang dimiliki lingkungannya.

Tujuan berikutnya membaca adalah agar dapat menyadari peran diri. Kita semestinya harus berada di mana, bersikap bagaimana, dan mengambil bagian dari sisi mananya—dalam sebuah kerja-kerja kreatif dan kehidupan ini. Sadar peran diri adalah hasil dialektika antara potensi diri dan potensi lingkungan. Tidak mungkin semua persoalan dalam hidup kita, dapat kita selesaikan sendiri semua. Membaca juga merupakan proses perjalanan menyadari pentingnya peran orang lain. Bukan justru membuat diri si pembaca menjadi egois dan dipenuhi hasrat untuk dipuji.●

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>