Literasi Baca di Era Kekinian

nc-logo-youtube-mobile

:: Agus M. Irkham

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengikuti acara Siberkreasi di Kemayoran, Jakarta. Acara yang digagas dalam rangka kampanye internet sehat dan bijak bermedia sosial ini banyak menampilkan menu kegiatan. Satu diantaranya berupa unjuk bincang atau talk show tentang pentingnya menyebarkan informasi dan pengetahuan yang berguna melalui YouTube.

Pemanfaatan YouTube ini dinilai cukup efektif mengingat budaya menonton yang telah menjadi kecenderungan umum masyarakat Indonesia. Respon penonton pun terukur. Mulai dari jumlah penonton (views), pengklik ikon jempol (liker), yang membagikan tautan (share), menulis komentar dan jumlah subscriber.

***

Dalam sebuah sambutan dalam rangka Hari Anak Nasional, Presiden Joko Widodo bertanya pada seorang anak yang didaulat maju ke depan panggung. “Cita-citamu apa?” tanya Pak Jokowi. “Saya ingin menjadi YouTubers,” jawab si anak spontan. Jawaban tersebut seketika disambut gelak tawa yang hadir. Secara hipotetis (dugaan sementara) peristiwa itu menunjukkan betapa social media, terutama YouTube telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Tidak hanya di kota, tapi juga di desa.

Cita-cita anak tersebut seperti hendak mengafirmasi hasil survei nasional yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 23-30 Agustus 2017 tentang orientasi sosial, ekonomi generasi milenial (yang lahir setelah tahun 1990). Dari 600 responden yang disurvei, kegiatan menonton film dan aktif dalam social media persentasenya lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan membaca (5,2 persen) dan menulis (0,8 persen).

***

Dari tiga ilustrasi di atas memberikan satu “panduan” kepada kita tentang bagaimana mengenalkan dan mengembangkan gerakan budaya baca atau literasi membaca melalui social media, terutama YouTube. Temuan di atas juga memberikan rekomendasi kepada kita, baik orangtua, guru maupun komunitas untuk mengubah cara berfikir dalam menempatkan kegiatan membaca, menulis dan menonton.

Saya mencatat paling kurang ada dua hal penting yang bisa dilakukan sebagai bentuk dialektika (respon yang bersifat adaptif) antara literasi baca dan social media ini—sebelumnya ditempatkan dalam posisi saling meniadakan (menegasi).

Dulu ketika kita ingin mengetahui sesuatu, kita akan membuka buku. Lantas berlanjut ke mengetik di google. Dari kedua cara tersebut kita akan memperoleh informasi berupa teks. Kemudian berlanjut lagi, informasi tentang sesuatu kini tidak lagi dicari melalui buku dan google tapi dalam bentuk video (YouTube). Maka pertama yang bisa kita lakukan dalam upaya mengenalkan buku dan kegiatan membaca adalah dengan membuat video-video pendek yang berisi beragam kiat membaca dan best practice pengalaman membaca (orangtua siswa dan siswa) yang kemudian diunggah di YouTube. Setiap kita, khususnya institusi pendidikan dan komunitas bisa membuat channel YouTube. Melalui cara ini, diharapkan pelan-pelan juga akan mengubah pola pikir anak-anak/siswa dari yang semula hanya konsumen informasi menjadi produsen informasi dan pengetahuan.

Kedua, pelatihan menulis yang ditujukan pada terciptanya karya tulis harus diperkaya lagi, yaitu menulis “naskah skenario” untuk film atau video. Jadi menulis dalam rangka menyiapkan content atau isi channel YouTube yang telah dibuat. Jadi tidak lagi menulis untuk tulisan. Tapi menulis untuk kemudian dibuat dalam bentuk gambar hidup (audio visual). Saya kira anak-anak akan lebih bersemangat belajar menulis juga sejak awal sudah dimaksudkan untuk menghasilkan video/film ketimbang tulisan belaka.

Sekarang ini telah muncul satu generasi yang disebut flux generation.
Yaitu generasi yang mementingkan enjoyment (rasa bahagia) dari pekerjaan dan dampak (impact) yang diciptakan. Generasi yang sangat menikmati tiap detail proses pekerjaan serta menjadikan dampak dari hasil pekerjaan tersebut sebagai pertimbangan penting dari suatu pengerjaan projek. Enjoyment dan impact itu pula yang seyogianya menjadi pertimbangan dalam membuat karya-karya kreatif literasi baca. Karya yang bersifat kolaboratif. Ada kerjasama dari berbagai pihak. Sehingga setiap pencapaian yang diperoleh, bukan hanya menjadi prestasi pribadi tapi juga lembaga (sebagai tim).•

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>