Salah Boleh, Culas Jangan

truth
:: Agus M. Irkham

Beberapa pekan lalu, saat saya berada di Bogor bertemu seorang teman lama. Teman akrab saat dulu kuliah di Undip. Sebut saja Adi. “Sudah lama memang saya bekerja di sini,” terangnya. Setelah berbicara ngalor-ngidul bernostalgia, tiba-tiba Adi terdiam. “Ada apa?” tanya saya. “Mau tidak, kamu menuliskan pengalamanku ini.” “Maksudmu?” “Ya. Saya ada sedikit peristiwa yang buatku ini rahasia, namun juga tak kuat jika saya simpan terus menerus.” “Kenapa saya yang harus menuliskannya? “Karena…khusus tentang ini saya tidak bisa menulis sendiri.”

Lama saya mendengar cerita Adi. Saya pun mencoba menuliskan tuturannya. Untuk menjaga privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita tersebut, nama sebenarnya saya sembunyikan. Berikut adalah cerita Adi itu….

***

Peristiwa ini berlangsung sekitar tahun 2013. Jadi memang sudah cukup lama. Maju mundur hati saya pada sangat ingin menuliskannya. Tapi entah kenapa, belakangan saya sering terobsesi dengan kematian. Akhirnya, hari ini saya putuskan untuk menuliskannya sebagai bagian dari cara saya agar, entah setelah ini, nanti atau esok mati, saya tidak meninggalkan perasaan yang sering mengganggu. Merasa terhina dan tak tahu diri.

Cerita bermula dari suatu hari saya menerima telpon dari senior saat kuliah di Undip. Sebut saja Mas Anto. Senior ini meminta cv dan tawaran honor. Ia hendak mengajukan tawaran jasa penulisan untuk sebuah perusahaan gas di Bontang, Kalimantan Timur. Saya pun akhirnya mengirimkan apa-apa yang menjadi permintaannya. Lama tidak ada kabar, sekitar 2 sampai 3 minggu setelah obrolan di telpon tersebut saya ditelpon oleh seorang laki-laki bernama, sebut saja Catur Warga. Ia meminta saya mengirimkan cv sekaligus permintaan honor untuk 4 proyek penulisan. Yaitu berupa penulisan jurnal imiah sebanyak dua tulisan, booklet, dan buku. Ia tidak memberi tahu dari perusahaan mana. Hanya saja, katanya dari Bontang.

Lantas saya pun mengirim WA ke Mas Anto. Mengabarkan bahwa saya baru saja ditelpon seseorang dari Bontang. Saya bertanya apakah orang tersebut sama orangnya dengan menawarkan projek di Bontang tersebut. “Kemungkinan besar, iya!” Jawabnya. Lantas saya pun—mungkin ini yang saya sebut sebagai sikap naif saya—saya bertanya ke Mas Anto, baiknya tawaran Catur Warga ini ditindak lanjuti atau tidak. “Tindak lanjuti saja tidak apa-apa,” jawabnya. Akhirnya saya pun meminta proposal yang sebelumnya telah dikirim senior saya ini untuk diforward ke saya. Begitu email masuk, saya melakukan beberapa penyesuaian, dan beberapa hari kemudian saya kirim ke Catur Warga. Kurang dari satu bulan, tawaran saya baru direspon. Harga yang disetujui adalah Rp60 juta untuk keempat proyek tersebut. Akhirnya saya pun berangkat ke Bontang. Sebelumnya saya mengabarkan ke Mas Anto bahwa saya jadi mengerjakan proyek Bontang. Ia pun memberikan selamat.

Waktu terus berjalan. Proyek berjalan sekitar 3 bulan. Dengan 2 kali bolak balik Batang-Bontang. Saat di rumah dan proyek belum selesai, saya menelpon Mas Rudi. Ia senior juga saat kuliah dan kenal dekat dengan Mas Anto. Saya berterima kasih, karena suatu waktu di beberapa bulan sebelumnya, ia pernah meminta saya menuliskan biografi ayah temannya. Saya juga bercerita kalau sedang mengerjakan proyek di Bontang.

“Iya, saya sudah tahu dari Mas Anto. Kata dia kamu menelikung. Mengambil proyeknya. Tidak sesuai dengan idealisme yang selama ini kamu ucapkan dan tulisakan,” terang Mas Rudi. Mendengar ucapan tersebut saya speechless. Tidak bisa bicara apa-apa. Tidak berusaha mengelak. Saya hanya mengatakan: “Oh begitu!”

Saya jadi sadar, kenapa Mas Anto setelah saya beri kabar bahwa saya jadi mengerjakan proyek Bontang tersebut memang tidak pernah mengontak saya lagi. Tidak lama setelah itu, saya kirim WA ke Mas Anto, meminta maaf. “Iya, tidak apa-apa, kamu lebih membutuhkan”, begitu jawabnya. Saya tidak membalas lagi.

Ada beberapa hal yang ingin saya utarakan terkait dengan kejadian di atas. Mungkin akan terbaca sebagai pembelaan diri. Pertama, mestinya secara etika, ketika Catur Warga menelpon saya, saya mestinya bertanya, ia mendapat nomor telpon saya dari siapa. Jika dari Mas Anto, saya mestinya menolak untuk mengajukan proposal, atau minimal saya meminta Catur untuk menelpon Mas Anto terlebih dahulu. Dari segi ini (etika) saya memang salah.

Tuduhan bahwa saya berlaku culas, adalah sangkaan yang tidak berdasar. Saya tidak menelikung. Karena sejak awal saya langsung bertanya ke Mas Anto, baiknya tawaran ditindak lanjuti atau tidak. Yang terjadi adalah sikap naif saya. Dan saya menyesali itu. Sampai dengan hari ini komunikasi saya dengan Mas Anto tidak bagus. Mungkin ia masih dongkol. Atau memilih untuk tidak berkomunikasi lagi dengan saya ketimbang bikin sakit hati.

Mestinya saat saya kasih kabar tentang telpon Catur Warga, ia mengingatkan saya, tidak etis rasanya jika saya mengambil proyek tersebut. Dan sebagai adik/yunior, saya akan berterima kasih karena sudah diingatkan. Yang terjadi adalah ia mempersilakan saya mengambil pekerjaan tersebut, tapi di belakang ia bercerita ke Mas Rudi bahwa saya berlaku culas. Dengan begitu masalah sesungguhnya tidak terselesaikan, yaitu saya masih menganggap jika apa yang saya lakukan itu benar, masalah baru muncul. Yaitu persepsi yang buruk dari Mas Anto dan Rudi kepada saya. Pembunuhan karakter. Itu yang saya rasakan.

Pengalaman di atas memberikan pelajaran penting buat saya. Yaitu tentang kepantasan atau etika menerima pekerjaan dan pentingnya sikap terbuka. Saya tidak beretika. Iya! Meskipun sesungguhnya itu lebih sebagai sikap naif saya. Karena dengan entengnya saya meminta pertimbangan Mas Anto tanpa ada rasa tidak enak atau dalam bahasa Jawa disebut pekewuh. Tapi saya tidak menelikung. Karena jika saya berniat menelikung, begitu Catur Warga menelpon saya, saya akan diam-diam saja. Mengambil proyek tersebut. Tidak perlu menghubungi Mas Anto.

***
Cerita Adi di atas mengingatkan saya pada suatu nasihat bahwa sesungguhnya tidak ada orang yang salah, yang ada adalah orang merespon dan melakukan sesuatu berdasarkan apa yang ia pahami. Nasihat tersebut tentu harus hati-hati sekali dalam menempatkannya. Sehingga tidak menjadi alasan apologia atau pembenaran perbuatan salah.

Spiritnya bahwa orang bisa khilaf, tidak tahu sehingga ia melakukan suatu kesalahan. Penghakiman terhadap suatu kesalahan tanpa ada upaya untuk mengetahui bagaimana pertalian perisitiwa yang berlangsung sehingga kesalahan tersebut terwujud hanya akan menutup pintu datangnya pelajaran kehidupan bagi si pembuat salah. Pencerahan tidak akan terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>