Bila Anak Tak Suka Buku

30712726_10215471441916391_3114911747090153472_n

:: Agus M. Irkham

“Naila, sini dong, mendekat, Ibu akan membacakan buku untuk mu.” Naila, putri si Ibu yang baru berusia tujuh itu pun mendekat ke arah ibunya. Sebentar ia mendengar nampak tertarik. Tapi tiba-tiba ia merebut buku yang ada di tangan ibunya lantas dilempar. Ia kabur ke luar rumah.

Pernahkah Anda mengalami hal serupa seperti yang saya ilustrasikan di atas?

Jangan kuatir, berikut ini adalah beberapa cara yang bisa Anda lakukan agar buah hati Anda menyukai buku, meskipun pada awalnya ia “membencinya”.

Pertama, terus saja membaca, meski anak pergi meninggalkan Anda. Meskipun sepertinya dia cuek atau tidak peduli, padahal sesungguhnya dalam ketidakpeduliannya tersebut, ia masih memasang telinga agar tetap bisa mendengarkan buku yang sedang Anda baca. Karena memang audio atau suara bisa didengarkan dan diserap sambil melakukan aktivitas lainnya.

Layaknya Anda pada saat mendengarkan radio, namun masih tetap bisa menyelesaikan pekerjaan lainnya. Misalnya sambil bersih-bersih rumah, menyirami tanaman, memasak atau kegiatan lainnya.

Kedua, ajak ke acara perbukuan. Misalnya dalam acara peluncuran buku atau pameran buku. Jadi mengenalkan buku dan kegiatan membaca kepada buah cinta kita bisa dimulai dengan memberikan pengalaman kepada mereka bagaimana buku dapat menciptakan acara atau kegiatan yang dikunjungi banyak orang sekaligus menyenangkan.

Ketiga, mengajak anak ke komunitas baca, perpustakaan atau taman bacaan. Di sini, mereka tidak hanya akan melihat buku tapi juga beragam kegiatan yang seru. Mulai dari mewarnai, bernyanyi, mendengarkan dongeng, bermain sulap dan lainnya sebagainya. Jadi, anak-anak tidak hanya bertemu buku tapi juga orang-orang yang menyenangkan sekaligus bisa menjalin persahabatan.

Keempat, biarkan buku digunakan sebagai mainan. Lebih baik buku rusak akibat kelewat sering dibaca, atau bahkan sekadar dibawa-bawa dan dijadikan bahan mainan. Buku rusak bisa dicari atau dapat dibeli lagi. Tapi jika anak-anak sudah ada rasa senang pada buku—secara fisik sebagai mainan, tidak dibaca—tapi kita melarang rasa senang itu, maka besar kemungkinan anak-anak akan mengalami trauma buku. Buku menjadi benda yang menakutkan mereka, oleh karenanya harus dijauhi.

Kelima, tunjukkan gambar-gambar menarik di buku. Hubungkan dengan kejadian yang dialami. Misalnya ada gambar kereta api. Obrolkan dengan antusias suasana stasiun atau pengalaman saat naik kereta api. Dengan demikian, buku menjadi benda yang hidup. Bisa menjadi pintu terjadinya obrolan yang akrab dan hangat. Anak-anak akan tertarik, karena ternyata isi buku dapat mereka temukan praktik atau kenyataannya dalam hidup sehari-hari di lingkungan mereka.

Keenam, akrabkan anak dengan huruf lewat puzzle dan gambar-gambar lucu. Pengenalan huruf (pengetahuan kognitif) harus diberikan dengan tidak meninggalkan segi-segi menghiburnya (edutainment)

Ketujuh, kalau anak sudah tertarik dengan buku, biarkan ia mengembangkan imajinasinya dengan gambar-gambar yang ada. Karena memang ada anak yang lebih suka mengungkapkan cerita dengan bahasanya sendiri. Dengan konsep bermain, suasana gembira, biarkan anak menyerap deretan huruf semampunya. Kalau proses mengenal buku menyenangkan, insyaAllah nantinya anak jadi hobi baca buku.

> untuk pertama kali, kolom ini termuat di Majalah Mutiara Insan edisi April 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>