Cinta Pertama Tan Malaka

IMG_20180423_060518

:: Agus M. Irkham

Majalah Tempo edisi 11-17 Agustus 2008 memuat tulisan khusus tentang Tan Malaka dengan judul di kaver: BAPAK REPUBLIK YANG TERLUPAKAN. Ada banyak sudut pandang tema yang ditulis. Satu di antaranya tentang kehidupan asmara Tan. Perempuan di Hati Macan. Demikian judul artikel yang diberikan. Dikisahkan, Tan Malaka saat masih di sekolah raja (Kweekschool) Bukittinggi, jatuh cinta dengan Syarifah Nawawi. Teman satu sekolah Tan. Syarifah adalah anak dari Nawawi Soetan Makmoer, guru Bahasa Melayu di sekolah raja yang membantu Charles van Ophuijsen menyusun Kitab Logat Melajoe (dikenal sebagai tata Bahasa Ophuijsen) pada tahun 1901.

Syarifah adalah perempuan Minang pertama yang mengecap Pendidikan ala Eropa. Ada 75 siswa di sana. Syarifah dan Tan Malaka—yang memiliki nama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka—sama-sama angkatan 1907. Jumlah siswa di kelas mereka 16 orang. Syarifah menjadi kembang karena satu-satunya perempuan di sekolah yang kini telah menjadi SMA Negeri 2 Bukittinggi. Dan Tan adalah satu dari tiga siswa yang melanjutkan studi ke Belanda.

Tan dan Syarifah pun terpisah ribuan mil. Tapi itu tidak jadi penghalang bagi Tan. Ia rajin mengirim surat kepada Syarifah, yang melanjutkan studi sekolah guru di Salemba School, Batavia. Tapi cinta itu ternyata bertepuk sebelah tangan. Menurut sejarawan Belanda yang menulis biografi Tan Malaka, Harry A. Poeze, Syarifah tak pernah sekali pun membalas surat-surat itu. “Tan Malaka? Hmm, dia seorang pemuda aneh,” begitu katanya pada Poeze sewaktu mereka bertemu pada tahun 1980. Syarifah tak menjelaskan di mana keanehan orang yang menaksirnya itu.

Syarifah kemudian menikah dengan R.A.A. Wiranatakoesoema, Bupati Bandung pada tahun 1916. Dari cerita ini, lahir anekdot di keluarga dan di kalangan penulis sejarah Tan Malaka: Tan menjadi Marxis karena kegagalannya dalan cinta pertama. Dia menjadi amat antiborjuis dan feodal untuk melawan orang yang merebut pujaan hatinya.

Syarifah dikarunia tiga anak. Yaitu Am, Nelly dan Minarsih. Setelah kedua orangtuanya meninggal, pada tahun 1937 Syarifah ke Batavia. Ia menyekolahkan anak-anaknya di Koning Willem III School Batavia. Aktivitasnya pun berlanjut dengan memimpin Sekolah Kemajuan Istri di Meester Cornelis.

Syarifah Nawawi bersama teman-temannya saat di Sekolah Raja, Bukittinggi. Syarifah, ketiga dari kanan.

Syarifah Nawawi bersama teman-temannya saat di Sekolah Raja, Bukittinggi. Syarifah, ketiga dari kanan.

Ia mengundurkan diri dari sekolah tersebut sewaktu Jepang masuk dan menguasai Indonesia. Namun ia tetap berjuang memajukan pendidikan wanita dan anak-anak dan masuk ke Fujinkai, suatu organisasi wanita binaan Jepang.

Pada tanggal 11 Juli 1955 ia bersama teman-temannya mendirikan Yayasan Panti Wanita Trisula PERWARI. PERWARI adalah sebuah organisasi wanita pejuang Indonesia yang didirikan pada tahun 1945. Syarifah tak pernah berhenti mengabdi pada masyarakat melalui pendidikan dan memberikan pengajaran kepada anak-anak perempuan serta wanita muda yang tidak mampu, bahkan ia merelakan rumahnya dijadikan tempat sekolah.

Pengabdian Syarifah Nawawi untuk pendidikan dan pencerdasan wanita di Indonesia tentu akan selalu dikenang oleh bangsanya. Ia menerima piagam penghargaan atas sumbangsihnya yang tulus dan tak kenal lelah demi terangkatnya anak-anak perempuan miskin ke derajat yang lebih tinggi. Sampai sekarang potret wajahnya masih tergantung di gedung Panti Trisula Perwari sebagai pengakuan atas pengabdian dan sumbangsihnya yang tulus itu. Syarifah Nawawi, pejuang pendidikan itu telah meninggal di Jakarta pada tanggal 17 April 1988 dalam usia 91 tahun

***

Putri bungsu Syarifah, Minarsih pada tahun 1947 menikah dengan Soedarpo Sastrosatomo—anak ideologis Sutan Sjahrir, pejuang kemerdekaan, intelektual sekaligus pendiri Partai Sosialis Indonesia. Di masa pendudukan Jepang, bersama Soedjatmoko ia tergabung dalam kelompok Prapatan 10. Yaitu kelompok pemuda yang terdiri atas beberapa mahasiswa Kedokteran Ika Daigaku sekaligus aktivis pro kemerdekaan yang tinggal di Asrama jalan Prapatan nomor 10. Karena penolakan dan aksi mogok massal yang diprakarsai Soedarpo bersama Soedjatmoko akibat perintah tentara Jepang untuk menggunduli para mahasiswa, membuat ia dan Soejatmoko dikeluarkan dari sekolah kedokteran.

Seusai kemerdekaan, Soedarpo sering diutus ke Jogyakarta untuk menyampaikan perkembangan perundingan kepada Soekarno dan Hatta sewaktu perundingan antara delegasi Belanda yang dipimpin oleh Schermerhorn dan van Mook dengan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sjahrir berlangsung.

Juni 1947, Belanda melanggar perjanjian Linggarjati dengan aksi militernya. Berkat bantuan India dan Australia, pemerintah kita berhasil mengajukan masalah ini ke persidangan Dewan Keamanan. Oleh Sjahrir, Soedarpo ditugaskan bergabung dengan delegasi Indonesia di Lake Succes, New York City. Delegasi Indonesia terdiri dari Mr. L.N. Palar, Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Soedjatmoko dan Charles Thambu. Soedarpo akan bertindak sebagai juru bicara pers. Kegiatan mencari informasi, dan meneruskannya kepada masyarakat internasional membuat lingkup pergaulan Soedarpo menjadi luas.

Desember 1949 datang berita baik mengenai penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada Republik Indonesia. Soedarpo diangkat menjadi Kepala Bagian Penerangan kantor di New York sekaligus sebagai atase pers kedutaan Indonesia yang bertempat di Washington.

Tahun 1951, Seodarpo mengajukan permintaan berhenti dari dinas diplomatik. Walaupun ditawari kedudukan di London dan Stockholm, dia telah memutuskan bekerja di bisnis swasta. Pada bulan Januari 1952, Kementerian Luar Negeri menerima pemberhentiannya.
Bulan Oktober 1952, tepatnya tanggal 20, Soedarpo mendirikan perusahaan dagang NVPD Soedarpo Corporation. Di kemudia hari, Soedarpo mendirikan perusahaan pelayaran bernama PT. Samudera Indonesia.

***

Sejak beberapa bulan lalu, nasib membawa saya bersentuhan dengan keluarga cinta pertama Tan Malaka ini. Kebetulan saya diminta untuk menuliskan kisah pemberdayaan teknologi informatika yang telah dilakukan Soedarpo Corporation sejak berdiri sampai sekarang—yang kini bernama Praweda Ciptakarsa Informatika. Wawancara dengan narasumber utama, satu di antaranya dengan cucu Syarifah Nawawi (putri sulung Soedarpo dan Minarsih/Mien Soedarpo—baik Darpo maupun Mien, keduanya sudah meninggal) saya lakukan beberapa kali di rumah Syarifah Nawawi yang berada di jalan Pegangsaan Barat, Jakarta. Serasa sedang menziarahi masa-masa sebelum kemerdekaan. 1907-2018. Terbentang waktu selama 111 tahun. Dan dalam bentangan waktu tersebut, kisah hidup manusia dipergilirkan.

Akivitas menulis (buku) mengantarkan saya berhubungan langsung dengan keluarga para pejuang kemerdekaan, yang sebelumnya nama-namanya hanya saya baca di teks-teks sejarah. Lebih dahulu, pada tahun 2015-2016 saya intens berinteraksi dengan keluarga besar Dr. Cipto Mangunkusumo, pendiri Indische Partij dan dr. Eri Soedewo, tokoh kunci peristiwa pembacaan Proklamasi Kemerdekaan dan Rapat Raksasa di lapangan Ikada, 1945.

Satu catatan kaki yang dapat saya bubuhkan dari pengalaman tersebut, betapa hidup ini sangat pendek. Betapa pun heroiknya kisah hidup, tidak akan berlangsung lama. Paling lama 60-70 tahun, bahkan kadang kurang, akan diganti dengan kisah dan pelaku hidup yang berbeda. Tugas kita sederhana saja, yaitu memanfaatkan kesempatan durasi waktu hidup tersebut sebaik-baiknya. Tidak hanya berjuang untuk bertahan hidup (to make a living), tapi juga dapat mengembangkan kehidupan yang lebih bermakna (to lead a meaningful life) serta turut memuliakan kehidupan (to ennoble life). Sebelum kita tutup usia dan zaman dipergilirkan pada generasi sesudahnya.

Sumber tulisan : Wikipedia, Majalah Tempo, Biografi Soedarpo Sastrosatomo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>