Di Ambang Kematian

664xauto-hukum-penggunaan-suntik-dan-infus-saat-puasa-160617i

:: Agus M. Irkham

“Put God first. Kata Denzel Washington, peraih piala Oscar lewat film Training Day saat memberikan orasi di Dillard University, Louisiana, Amerika. Put God first in everything you do. Lanjutnya. Denzel mengingatkan kepada yang hadir terutama mahasiswa Dillard University agar mengutamakan Tuhan dalam segala apa pun yang dilakukan.

Saya tidak hendak menempatkan pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang merujuk pada keyakinan agama Denzel, namun lebih sebagai nilai (value) spiritualitas yang tentu saja bakal didapatkan di agama mana pun. Kaitan dengan hal itu ada satu peristiwa di bulan April ini pula yang mengingatkan saya pada “Put God first” tersebut.

Kamis, 5 April lalu saya ke Jakarta. Selain berkaitan proses penyelesaian naskah buku biografi, kepergian saya ke Jakarta karena esok harinya (Jumat, 6 April) bersama beberapa teman pegiat literasi, kami berencana ke kantor audio buku. Yaitu satu perusahaan yang mengemas buku teks dalam bentuk suara (audio).

Selain itu Ahadnya, 8 April saya sudah terjadwal mengisi acara Book Talk di radio Sindo Trijaya FM, Jakarta. Membicarakan buku terbaru saya Skripsi Under Cover. Senin pagi saya berencana pulang. Karena Rabu 11 April harus ke Semarang, menjadi Juri lomba menulis artikel ilmiah populer tingkat pelajar SMA se-Jawa Tengah yang diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah.

Sabtunya, 14 April musti mengikuti acara isra mi’raj dan khaul kakek buyut saya dan Ahadnya, 15 April, menjadi pemantik diskusi bersama komunitas-komunitas peduli Batang. Karena jadwal kegiatan saya agak padat, maka jauh-jauh hari saya telah mempersiapkan segala yang diperlukan. Baik urusan tiket PP, maupun materi yang harus saya sampaikan.

Manusia berencana, Tuhan menentukan. Siang setelah tiba di Jakarta, kepala saya terasa pusing sekali. Badan juga panas, perut mual. Keringat dingin keluar terus menerus. Satu kondisi yang sejak awal telah saya rasakan ketika malam kamis, saat di rumah, dalam perjalanan di dalam kereta dari Weleri ke Semarang, termasuk ketika menunggu di Bandara A. Yani. Saat di dalam pesawat pun, begitu duduk, saya langsung mencoba untuk tidur karena badan yang terasa panas. Dan bangun ketika pesawat sudah tiba di bandara Soekarno Hatta.

Demam terus berlanjut hingga kamis malam. Jumat pagi kepala semakin terasa berat. Saat berjalan pun limbung. Merasakan kondisi tersebut, saya mengirim kabar ke teman, tidak bisa ikut ke audio buku. Sore hari, saya mulai gelisah. Demam, keringat dingin, mual tak kunjung berkurang, alih-alih hilang. Sore itu pula saya melakukan cek daerah di Klinik Prodia, di daerah Kramat. Hasil pemeriksaan jadi sekitar jam 8 malam, dan dikirim melalui email. Email saya forward ke dr. Nies—narasumber buku biografi yang tengah saya selesaikan.

Berdasarkan keterangan dari dr. Nies setelah membaca hasil cek darah, saya positif terkena tipes. Melalui kolega dr. Nies, saya diberi beberapa obat. Dengan harapan tipes sembuh tanpa harus opname ke rumah sakit. Mulai Jumat malam pun saya minum obat.

Usai tes darah, saya menyempatkan kirim WA ke produser acara Book Talk, mengabarkan bahwa saya tidak bisa hadir karena sakit. Termasuk ke panitia lomba menulis dan temu komunitas peduli Batang. Oh iya, di Jumat malam itu, saya masih harus melakukan wawancara melalui telepon dengan radio Gajahmada FM, Semarang dalam acara Buka Buka Buku. Mulai pukul 7 hingga 8 malam. Saya tidak bisa membatalkan karena waktunya sudah mepet, dan wawancara telah dijadwalkan jauh-jauh hari.

Jadilah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari hostnya sambil rebahan di atas tempat tidur. Sambil menahan hawa panas di tubuh, rasa pusing, dan tak habis-habis mengelap keringat dingin yang tak terus keluar. Beruntung wawancara dibagi dalam tiga sesi. Sehingga ada jeda buat saya untuk minum dan istirahat sebentar, sambil mengatur kembali bantal agar enak untuk rebahan.

Dari hari Jumat hingga Selasa pagi (10 April) saya masih bertahan di kos dengan meminum obat. Beruntung ada pembantunya dr. Nies, namanya mbak Nanik yang membuatkan saya bubur, membantu saya makan obat, sampai menyuapi saya makan—saat kondisi tubuh lemah sekali. Karena mulut terasa pahit, rasa mual juga semakin kuat, paling banyak saya hanya bisa makan tiga suap bubur. Itu pun tak lama kemudian saya muntah. Saya merasakan kondisi tubuh saya semakin lemah.

Permintaan dari istri agar saya mau dijemput dari Batang dan dibawa pulang tidak saya loloskan. Saya merasa tidak kuat harus menempuh perjalanan darat sejauh lebih dari 500KM dalam keadaaan tubuh yang lemah. Rawat jalan pun berlanjut. Dalam sehari oleh mbak Nanik, tiga kali suhu tubuh saya diukur. Ketika hari Sabtu dan Ahad bertahan di suhu 37 derajat celcius. Namun pada hari Senin bukannya turun malah naik menjadi 38 derajat celcius. Dalam hati saya sempat terbetik pikiran, bisa bertahan tidak ya, kira-kira. Saya langsung teringat kisah seorang petinggi sebuah perusahaan besar di Jakarta yang meninggal karena penyakit “sepele”ini juga. Apakah saya akan mengalami hal yang sama?

Selasa siang, suhu tubuh saya naik lagi hingga 40 derajat Celsius. Yang saya rasakan, ibarat tubuh itu suatu hamparan padi yang masih hijau, tiba-tiba datang bergulung-gulung awan panas memapar dan membuat hamparan padi yang semula berwarna hijau tersebut seketika berubah warna menjadi coklat, kering dan ringkih.

Akhirnya menjelang ashar, saya dibawa dr. Nies ke Rumah Sakit Menteng Mitra Afia (MMA) di Kalipasir. Saat masuk ke IGD, saya pasrah saja. Untuk bicara saja sudah sangat susah. Setelah dirawat, dua hari kemudian, kondisi saya pelan-pelan semakin membaik. Saya sengaja tidak memberi tahu teman-teman di Jakarta dan kerabat, kecuali istri, bahwa saya dirawat di RS.

Pertimbangannya saya ingin istirahat total, menghentikan sejenak segala bentuk persoalan, saya ingin fokus dulu pada kondisi kesehatan saya. Dan di saat sendiri itu, saya merasa Tuhan jadi terasa lebih dekat. Tidak ada hijab atau penghalang. Yang sedikit repot adalah ketika infus habis dan harus memberitahu perawat. Saya mesti berjalan tertatih-tatih sambil menenteng botol infus, berjalan menuju ruang jaga.

Selasa sd Jumat (10-13 April) saya dirawat. Dan alhamdulilah, Jumat sore (13 April) saya diizinkan pulang/rawat jalan. Tentu saja, pulang di sini artinya saya harus istirahat di kos terlebih dahulu. Belum memungkinkan pulang ke rumah di Batang. Meskipun kondisi tubuh masih lemas, tapi sudah tidak pusing, perut juga sudah enakan. Makan mulai doyan. Tiap pagi saya harus “belajar” berjalan di halaman teras kos. Berjalan kaki, menguatkan pijakan. Karena praktis selama seminggu, saya lebih banyak tergolek di tempat tidur saja. Betapa untuk sekadar makan dan berjalan pun harus “dilatih” ulang. Sambil “berlatih” berjalan, saya membatin: “Betapa manusia itu lemah dan tak berkuasa atas dirinya.”

Betul kata Denzel Washington: “Everything that I have is by the grace of God. It’s a gift.” Semua yang kita milikinya sepenuhnya adalah karunia Tuhan. Semata-mata pemberian/hadiah dariNya.

Kata orang bijak, selalu ada hikmah di balik suatu peristiwa. Lantas apa perolehan penting saya setelah melampaui masa-masa di ambang kematian tersebut?

Pertama, saya menjadi disiplin lagi soal menu dan jam makan, termasuk waktu istirahat. Lebih baik tidur awal bangun awal. Ketimbang tidur larut, dan setelah subuhan nambah tidur.

Selain itu?

Seperti yang di awal tulisan ini. Put God first. Semua agenda, rencana, rekayasa mestinya saya tempatkan sebagai ikhtiar semata. Itu sebab dalam tradisi Islam dikenal kata InsyaAllah yang artinya jika Allah menghendaki/mengizinkan. Dan naga-naganya sudah lama saya melupan kata kunci tersebut. Tipes telah membawa saya, meminjam istilah yang diberikan Viktor E. Frankl, seorang penemu teori psikologi logoterapi sekaligus penulis buku Man’s Search for Meaning, kepada proses penyembuhan jiwa. Dan menyerahkan kembali penyelamatan jiwa kepada agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>