Nur Rois Kandidat Doktor

184116_2253878583641_7919186_n

:: Agus M. Irkham

Jika kemarin saya cerita tentang Andi, masih tentang teman SMA, kali ini saya akan cerita teman saya lainnya. Rois namanya. Lengkapnya Nur Rois. Teman saat kelas dua SMA. Kami sama-sama mengambil jurusan Sosial (IPS). Kala itu tahun 1995. Jadi kurang lebih 23 tahun lalu. Tidak banyak yang saya ingat dari sosok yang satu ini, kecuali tiga hal. Pertama, kegemarannya menggambar tokoh hero animasi Jepang. Kegemaran itu tidak saja ia lakukan saat jam istirahat, tapi juga saat pelajaran tengah berlangsung.

Kedua, tampilan yang asal-asalan. Rambut awutan-awutan, yang saya ingat rambutnya kriting. Dengan baju seragam yang nampak tidak cukup menutupi badan. Ada saja bagian dari tubuhnya tidak tidak dapat jatah kain bajunya. Harap maklum, Rois memang berbadan besar. Untuk tidak mengatakan gendut, hehehe.

Saat itu saya tak jarang membatin, pasti Rois ini saat berangkat sekolah belum mandi. Rambutnya juga sepertinya tidak pernah tersentuh sisir. Kalau dipaksa-paksa harus menggambarkan seperti apa tampilan rambutnya saat itu, Wimar Witoelar saya kira gambaran yang paling mendekati. Ketiga, peristiwa saat pelajaran matematika. Ceritanya seperti ini. Suatu waktu pelajaran matematika tengah berlangsung. Satu persatu nama kami, seluruh isi kelas, sesuai nomor urut presensi dipanggil ke depan untuk mengerjakan soal.

Nah singkat cerita giliran Nur Rois. Lama ia melihat soal di papan tulis. Kapur yang ada ditangannya tak kunjung ia guratkan. Sampai akhirnya, si guru, bernama Pak Widodo, kami memanggilnya dengan sapaan akrab: Pak Duduk. Lantaran beliau selalu sigap mempersilakan siswa yang tidak bisa mengerjakan soal di papan tulis untuk segera duduk.

Tapi rupa-rupanya hari itu agak beda dengan Pak Duduk. Rois yang nampaknya kesulitan menyelesaikan soal bukannya diminta untuk duduk tapi diberitahu caranya mengerjakan, hingga menunjukkan di mana letak kesalahannya. Cara menunjukkannya adalah dengan menggunakan penggaris panjang terbuat dari kayu yang legendaris itu, hehe. Hanya generasi 90-an yang tahu. Saat penggaris itu digerakkan oleh Pak Duduk, bukannya diikuti oleh Rois, tapi justru dipeganginya, sehingga keduanya tarik-tarikan penggaris. Kontan saja kejadian itu memicu tawa seluruh isi kelas.

Entah, ini berkaitan dengan tragedi penggaris atau tidak, sepertinya kawan-kawan tidak terlalu menganggap penting kehadiran Rois. Bahkan cenderung sering mengkritik karena penampilannya yang tidak lazim. Haha.

Bersama Nur Rois di depan tokonya.

Bersama Nur Rois di depan tokonya.

Waktu terus berlalu. Tahun 1996 kami lulus. Kami mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sayang, saya gagal. Dan banyak pula teman saya yang bernasib sama. Rois? Dia justru diterima di Fakultas Hukum Undip, Semarang.

Sekitar akhir tahun 2000—saya sudah semester 6 di Fakultas Ekonomi Undip—saya bertemu kembali dengan Rois. Ia semakin tambun. Dengan gaya rambut yang masih sama—kacau, hahaha. Satu saja yang beda, ia mahir sekali berbicara tentang internet. Terutama game online. Dari Rois pula di tahun itu saya diajari membuat akun email di yahoo yang sampai sekarang masih saya pakai. Meskipun kami kuliah di Universitas yang sama, tapi karena fakultas yang berbeda, membuat kami jarang bertemu. Meskipun letak fakultas hukum dan ekonomi cukup dekat. Saat itu masih di daerah Pleburan.

Tahun 2009, melalui Facebook, saya terhubung kembali dengan Rois. Dari info profilnya ia menetap di Baturaja, Sumatera Selatan. Sudah berkeluarga dengan satu putra. Bekerja sebagai apa ia di Bumi Sriwijaya ini? Dosen! Ia mengajar di Unversitas Baturaja. Tidak hanya mengajar, ia juga berwirausaha—servis, dan jual beli komputer, warnet juga.

Bulan Mei 2011 saya nyaris bertemu dengannya. Saat itu saya ke Universitas Sriwijaya di Indralaya, Palembang. Jarak tempuh dari Indralaya ke Baturaja sekitar 5 jam. Itu kalau lancar. Karena saya harus segera pulang ke Jakarta, saya urung mampir ke rumahnya.

Beruntung Selasa, 26 Juli 2011, berkaitan dengan kegiatan pengembangan budaya baca (gerakan literasi), saya ke Desa Karangdapo, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Sekitar 2-3 jam perjalanan dari Baturaja. Selasa malam, sekitar pukul 11 saya sudah tiba di Baturaja.

“September besok saya ke Jakarta Gus, kuliah S2 di UI,” ucap Rois membuka sapa sambil memegang stir mobil Nissan Pajero-nya usai menjemput saya di pool Travel trayek Pasar 16 – Baturaja. Jadilah malam kamisnya (27/7) usai saya menyelesaikan acara, oleh Rois saya diajak keliling kota Baturaja. Menikmati “kapal selam” dan Durian—yang membuat saya bersendawa berulang kali.

Keesokan harinya, saya juga sempat diajak berkunjung ke tempat usahanya serta ke kampus Universitas Baturaja. Masuk ke ruang kuliah. Ia juga banyak bercerita tentang karakteristik kebanyakan mahasiswa di Baturaja.

Fakta yang saya dapati tentang Rois di tahun 1995 dan 16 tahun kemudian (saat saya bertemu di Baturaja, 2011) sangat berbeda. Dalam benak saya, tidak pernah membayangkan Rois akan menjadi dosen, lantaran track recordnya saat SMA yang di luar kategori siswa rajin dan pintar. Namun ada yang konsisten saya lihat dari sosok Rois ini, yaitu fokus mengerjakan yang disenangi. Saat kuliah dia begitu fokus menginvestasikan waktunya untuk mengenal seluk beluk komputer baik hardware maupun software serta internet—sama fokusnya ketika ia setiap hari saat di SMA selalu menggambar tokoh animasi Jepang. Barangkali rasa bahagia itu yang membuat ia tidak pernah kehabisan energi untuk belajar. Termasuk keberanian untuk berhijrah.

Rois lahir dan besar di Kaliwungu, Kendal. Begitu selesai kuliah, ia langsung hijrah ke Baturaja, membuka usaha, menikah, dan melamar menjadi dosen. Kini ia telah menamatkan pendidikan strata duanya di Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Dan kabar terakhir, ia sedang menempuh studi doktoral ilmu hukum. Dan kawan-kawan mau tahu hobinya dia sekarang? Umroh! Ia punya biro travel umroh yang terpercaya dan nampaknya terus berkembang. Selamat ya Is. Terima kasih sudah memberikan banyak pelajaran buat saya, terutama traktiran kapal selam dan Duriannya. InsyaAllah kapan-kapan, saya siap ditraktir lagi, hehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>