Reuni

IMG_20180424_102920_990

:: Agus M. Irkham

Secara mudah, kata “reuni” bisa dimaknai pertemuan kembali atau kembali (re) menjadi satu (unity). Menjelang ramadhan seperti sekarang ini, biasanya beragam reuni teragendakan. Bisa reuni bersama kawan-kawan saat di SD, SMP, SMA atau pas kuliah. Masing-masing punya pertimbangan sendiri untuk datang atau tidak. Ada sebagian yang memutuskan diri untuk tidak hadir lantaran merasa hidupnya tidak sesukses teman-teman lainnya. Ada perasaan minder. Ada juga yang (mungkin) semangat sekali untuk hadir, karena reuni bisa menjadi panggung bagi kesukesesan hidupnya.

Saya pribadi senang mendatangai reuni, karena ia bisa menjadi sarana untuk bersyukur. Pertama, tentu rasa syukur itu karena masih dikaruniai umur panjang, kesehatan dan kesempatan. Tenyata dulu saya pernah unyu-unyu dan wagu. Hehe. Asyik sekali bisa melihat diri kita yang lain pada masa lalu dengan cara pandang kita di masa kini. Semuanya jadi indah saja rasanya. Menjadi lukisan kehidupan di masa kecil/remaja saya. Entah jelek, entah bagus, yang penting lukisan utuh/jadi sehingga orang (saya) bisa menikmatiknya. Dengan sedikit hiperbolis—meminjam sajak almarhum WS. Rendra—yang saya rasakan:

“Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, Langit di badan, bersatu dalam jiwa”. Dalam ungkapan yang berbeda, reuni buat saya dapat meremajakan jiwa. Menguatkan kembali komitmen untuk menjalani hidup sebaik-baiknya.

Kegiatan belajar tali temali ekstra kurikuler pramuka dan Palang Merah Remaja (PMR). Foto diambil di depan gedung sekolah bagian depan/muka. Sekitar tahun 1992.

Kegiatan belajar tali temali ekstra kurikuler pramuka dan Palang Merah Remaja (PMR). Foto diambil di depan gedung sekolah bagian depan/muka. Sekitar tahun 1992.

Kedua, reuni buat saya selalu memunculkan rasa takjub dan semakin sadar bahwa ini hidup ini ajaib. Misalnya ketika melihat seorang teman yang dulu saat SMP angin-anginan dan cenderung bandel, sering membolos, tapi setelah 25 tahun kemudian ia menjadi sosok yang religius, sejahtera secara ekonomi sekaligus punya peran sosial di lingkungannya. Betapa kisah perjalanan hidup tiap orang, kita tidak pernah tahu ujungnya. Pemahaman ini memunculkan simpulan pada diri saya untuk tidak gampang memberikan labelling atau ngecap seseorang dengan label buruk.

Nurlaela jadi perawat. Tahun 1992. Saat kelas 2 SMPN 1 Gringsing. Dulu perayaan Agustusan semua siswa harus berkumpul di lapangan Tlahab. Jalan sampai dengan lapangan Gringsing. Nurlaela, banyak teman memanggilnya Akademi Polisi, entah kenapa bisa demikian. Hehe.

Nurlaela jadi perawat. Tahun 1992. Saat kelas 2 SMPN 1 Gringsing. Dulu perayaan Agustusan semua siswa harus berkumpul di lapangan Tlahab. Jalan sampai dengan lapangan Gringsing. Nurlaela, banyak teman memanggilnya Akademi Polisi, entah kenapa bisa demikian. Hehe.

Ketiga, reuni adalah silaturahim. Dan tiap silaturahim sejauh pengalaman saya selalu mendatangkan keberkahan yang wujudnya macam-macam. Apalagi saat reuni bisa bertemu dengan guru-guru kita dulu. Saya kira tidak ada mantan guru atau murid. Hubungan keduanya akan terus berlanjut, meskipun secara formal sudah lulus dari sekolah. Dan hubungan yang khas antara guru dan murid ini biasanya sering kali ingin kita ulang dalam pengertian yang nyata (kembali ke masa lalu).

Kartini identik dengan kebaya. Itu juga berlaku sejak dulu. Saat kami duduk di SMP. Foto ini diambil tahun 1992. Di depan kelas. Nampak di belakang papan tulis yang alat tulisnya masih menggunakan kapur.

Kartini identik dengan kebaya. Itu juga berlaku sejak dulu. Saat kami duduk di SMP. Foto ini diambil tahun 1992. Di depan kelas. Nampak di belakang papan tulis yang alat tulisnya masih menggunakan kapur.

Mungkin pada dasarnya tiap orang tidak ingin tua. Maunya masih muda terus. Bahkan anak-anak. Masa di mana kita tidak “dibebani” dengan tugas-tugas hidup karena peran sosial yang melekat. Tugas hidupnya sederhana saja. Belajar/sekolah dan main. Pola relasi dengan teman-teman pun masih tulus. Tidak banyak direcoki dengan beragam kepentingan. Termasuk relasi pertemanan dengan lawan jenis.

Reuni adalah saat jeda sejenak melihat ke belakang, saat diri masih unyu-unyu :D

Reuni adalah saat jeda sejenak melihat ke belakang, saat diri masih unyu-unyu :D

“Ketika itu saya berada di depan kelas saya,” seorang teman SMP bercerita. “Tanpa sengaja saya menengok ke arah kiri di mana ruang kelas kakak tingkat berada. Kami bertemu pandang dan sama-sama tersenyum, duh kejadian begitu saja sudah bisa membuat tubuh saya panas dingin (malaria kali, hehe) dan membuat saya tidak bisa tidur semalaman,” lanjut teman saya. “Saya senang sekali, pada saat ia ditawari teman lain membonceng sepeda, ia menolak. Tapi saat saya tawari, mau,” kenangnya.

Gadis zaman old. Hehe. Sepertinya foto ini diambil saat wisata di Jakarta tahun 1993. Berlokasi di pagar Masjid Istiqlal.

Gadis zaman old. Hehe. Sepertinya foto ini diambil saat wisata di Jakarta tahun 1993. Berlokasi di pagar Masjid Istiqlal.

Tapi saat itu (tahun 1992) tidak ada faktor eksternal yang dapat menstimulasi hubungan yang lebih jauh—ya cerita teman saya tersebut hanya berhenti di situ saja. Satu pola hubungan yang tulus, dan indah menurut saya. Rasa suka yang tidak berpotensi menimbulkan luka. Kualitas relasi yang bersifat murni, suci dan alamiah seperti ini pula yang saya kira dirindukan oleh banyak orang. Dalam reuni, saya memiliki kesempatan untuk mengembalikan ingatan atas kualitas hubungan yang suci dan alamiah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>