Gelap di Dalam, Mencari Terang di Luar

WhatsApp Image 2018-09-25 at 10.25.09

:: Agus M. Irkham

Beberapa tahun lalu, saya membuka-buka koleksi lama perpustakaan pribadi saya. Salah satunya berupa Jurnal Prisma. Banyak tulisan-tulisan yang masih aktual dapat saya temukan di jurnal terbitan LP3ES ini. Ada satu edisi, sekilas saya baca judul utama di cover depan, sangat menarik. Saya pun memilahnya dan meletakkannya di rak buku khusus. Masuk menjadi bahan bacaan yang akan saya baca kembali.

Di suatu sore, beberapa hari kemudian saya baru bisa membuka dan membaca lembar demi lembar isinya. Saat membaca tersebut, saya menemukan satu ilustrasi menggelitik yang teletak di bawah suatu artikel. Nampak seorang laki-laki sedang berjalan. Di tangan kanannya membawa lilin yang menyala, sedangkan kedua matanya tertutup kain tebal.

Seketika saya tersenyum melihat gambar tersebut. Senyum yang kemudian disusul dengan renung. Gambar itu seperti hendak menyindir saya.

Mengapa bisa begitu?

Dalam pemahaman saya, gambar tersebut bermakna seringkali orang saya (kita) mencari terang atau cahaya di luar, sementara sumber cahaya utama yang melekat pada diri kita justru ditutupi. Atau dalam ungkapan lain, gelap di dalam mencari terang di luar. Satu perbuatan sia-sia.

Pencarian rasa bahagia di luar yang dianalogikan atau diumpamakan dengan menyalakan lilin tidak akan bisa membantu apa-apa. Karena sumber kegelapan itu berasal dari dalam dirinya yang diilustrasikan dengan mata yang terbebat kain tebal. Sumber rasa tidak bahagia itu berasal dari dalam dirinya, bukan dari luar. Pencarian rasa bahagia di luar, memang dapat berhasil mengalihkan kesedihan. Tapi tidak mampu menghilangkannya. Sebentar kemudian, kegalauan dan kegelisahan itu akan hadir kembali dengan intensitas yang justru semakin bertambah.

***

Sebagai penulis dan pegiat literasi, banyak kegiatan yang saya harus jalani. Dalam kegiatan tersebut, saya hampir selalu memperoleh apresiasi yang positif. Tentu saja, hal itu harus disyukuri. Menjadi pertanda kehadiran saya diterima. Tidak saja kehadiran fisik, lebih dari itu adalah kehadiran karya, gagasan dan pikiran. Selain harus disyukuri, dalam waktu bersamaan, sanjung dan tepuk tangan itu mesti saya waspadai pula. Jangan sampai puja puji itu melupakan peran utama saya lainnya yaitu menjadi suami dan ayah dari lima anak. Karena sesungguhnya, mereka yang “mengizinkan” saya untuk beraktivitas keluar.

Pada titik itu saya jadi teringat dengan pesan Rasul Muhammad SAW bahwa: “Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya.” Nasihat itu cukup efektif mengingatkan saya agar tidak silau terhadap cahaya yang berasal dari aktivitas-aktvitas di luar. Karena sumber terang sesungguhnya (surga) berasal dari dalam keluarga. Buat apa selalu ramah dan bersahabat pada orang lain, tapi kerap uring-uringan pada istri dan anak-anak.

Sebuah situasi penuh paradoks jika misalnya saya mampu bersabar dan memberikan perhatian kepada orang lain, tapi justru mudah muntap dan tak acuh pada keluarga. Dalam pandangan saya pribadi, tidak terlalu sukses dalam meniti karir tidak mengapa, asal dapat tetap berbuat yang terbaik kepada keluarga. Maka, menciptakan cahaya dan menjaganya agar cahaya itu terus menyala seyogianya menjadi prioritas utama kita sebagai orangtua, terutama ayah.

Buku ini berisi pengalaman saya (dan istri) dalam membersamai kelima anak kami. Berisi kisah perjalanan kami menemukan makna rumah sebagai sekolah utama bagi anak-anak. Dalam suatu kejadian kami menjadi guru buat mereka. Tapi di banyak peristiwa lainnya, mereka yang lebih banyak menjadi guru kami.

Tapi tentu saja, saya tidak hendak mengatakan bahwa saya lebih tahu dan punya pengalaman banyak melebihi yang Anda punyai. Atau berposisi sok tahu dan berhasrat mengajari Anda. Karena sebagian tulisan di buku ini juga bersumber dari pengalaman orang lain. Termasuk hasil dari penjelajahan saya atas beragam bacaan tentang kepengasuhan (parenting).

“Surga di Belakang Rumah Kita”. Judul ini memberikan isyarat kepada kita semua bahwa “potret” keluarga bahagia itu semestinya tidak hanya dapat ditemukan di ruang-ruang tamu dalam bentuk pertemuan formal atau foto keluarga yang terpampang di dinding. Lebih substantif ketimbang itu, potret keluarga bahagia mestinya terejawantahkan pada suasana surga dan peristiwa bahagia yang berlangsung di dalam rumah dan belakang rumah kita. Bagian dari rumah yang jauh dari penglihatan orang lain. Jadi, bahagia itu bukan untuk ditampak-tampakkan tapi untuk dirasakan dan dihikmati bersama seluruh isi rumah. Bahagia (surga) yang tercipta dari sebuah perjalanan menemukan makna rumah sebagai sekolah pertama dan utama bagi buah hati kita.

Akhir kata, saya ucapkan selamat menikmati karya sederhana ini. Meskipun pada akhirnya jika tujuan membaca adalah mendayagunakan apa yang kita baca menjadi sebuah laku dalam kehidupan sehari-hari, buku ini menjadi tidak sederhana lagi. Semoga kita bisa menciptakan surga di masing-masing rumah kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>