Klaim Kebenaran

truth

:: Agus M. Irkham

syiah bukan islam! silakan saja jika anda punya sangkaan seperti itu. hanya saja, pastikan anda punya pengetahuan yang lengkap dan mendalam tentang syiah. mulai dari soal imamah hingga beragam sekte yang ada. lebih oke, jika anda secara intens dalam waktu yang lama berinteraksi dengan penganutnya.

anda menganggap suatu ibadah sebagai bid’ah! silakan saja. tapi sebelumnya ada harus pastikan terlebih dahulu apa yang disebut dengan bid’ah itu lengkap dengan variannya serta konteks serta sejarah “ibadah tambahan” itu bermula.

demokrasi itu menyimpang! silakan saja. tapi anda harus konsekuen untuk tidak menggunakan, memanfaatkan dan menikmati produk (barang dan jasa), layanan publik serta tetek bengek kelengkapan adiministrasi hasil policy birokrasi yang dilahirkan dari sistem demokrasi.

anda menuduh wahabi anti sunah! silakan saja. tapi anda harus mengantungi pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang waham itu. mulai dari sejarah kemunculannya, perkembangannya, serta deviasi aliran yang terjadi sekarang ini. jangan setiap yang memakai celana cingkrang dan berjenggot anda sebut wahabi.

bahwa islam hadir bukan untuk mengarabkan budaya lain, itu iya. tapi lantas bukan berarti juga setiap bentuk-bentuk luaran budaya arab yang diadopsi oleh bangsa lain langsung divonis sebagai bentuk formalisme belaka yang wajib melahirkan sikap dan perilaku yang penuh hipokrisi. yang melakukan adaptasi dan imitasi budaya arab tidak harus selalu bersifat oposisi biner. salah-benar. kami-kalian. lovers-haters. karena ada juga bagian dari muslim yang menjadikan atribut luaran untuk mengingatkan bahwa yang yang di dalam harus sesuai dengan atribut yang dipakai. dan itu proses. tidak ideal memang. tapi di dunia siapa sih yang bisa memastikan segala persepsi yang disangkakan wajib benar?!

bersikap adil, berjarak dan meletakkan segala sesuatu sesuai dengan posisinya sungguh penting. karena dengan begitu, anda tidak akan gampang menghakimi orang dan setiap keadaan dengan tergopoh-tergopoh. anda juga harus kritis. mana ungkapan-ungkapan yang mengandung kebenaran murni, mana yang sarat kepentingan politik. karena sering kali isu perbedaan paham keagamaan—nu : wahabi misalnya—digoreng terus menerus demi mendapatkan dukungan kekuasaan politik. sehingga timbul kejadian-kejadian yang lebay dan memalukan: melarang kelompok lain mengadakan majlis taklim dengan alasan perbedaan mazhab.

kita ini rada-rada aneh, kepada kelompok di luar islam, sangat toleran dan memiliki empati yang mendalam. tapi terhadap saudara sesama muslim justru intoleran. al islamu mahjuubun bil musliimin. cahaya keindahan islam tertutupi oleh perilaku buruk umat islam sendiri.

dari mana semua persoalan itu harus ditata?

tidak ada cara lain kecuali kita harus kembali kepada yang paling mendasar yaitu belajar agama (yg kontinue) secara benar. dan menjadikan nilai2 agama sebagai laku sosial bukan sebatas menjadi himpunan ilmu pengetahuan. karena semua sak wasangka lahir dari pemahaman beragama yang nanggung. sehingga mudah sekali dibelokkan untuk kemudian dibajak oleh pihak-pihak yang punya kepentingan “non langit”. agama direduksi menjadi sebatas sarana memenuhi hajat sosial, ekonomi dan politik belaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>