Perpustakaan dan Kesejahteraan

perpus_oke

:: Agus M. Irkham

Perpustakaan, sesuai dengan namanya berarti himpunan pustaka. Satu di antaranya berupa buku. Pemahaman umum tentang perpustakaan pun adalah tempat berkumpulnya buku. Selain itu, tentu saja ada aktivitas membaca (dan menulis). Terakhir disebut menjadi satu dari enam lingkup literasi (literacy).

Belakangan banyak mengemuka pembicaraan tentang literacy dan pembangunan; literasi dan peningkatan kesejahteraan, bahkan lebih mengerucut lagi: perpustakaan dan (peningkatan) kesejahteraan. Aktivitas membaca (dan menulis)—literasi baca tulis—dapat meningkatkan kesejahteraan. Begitu simpulan yang muncul. Dan mayoritas publik menempatkan kata sejahtera tersebut dalam pengertian materi atau ekonomi

Tentu saja simpulan itu perlu dilihat lebih dalam, bagaimana alur transmisinya, sehingga ketika seseorang gemar membaca lantas secara linear dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi. Apakah betul bahwa (membaca) buku punya manfaat sehebat itu. Satu lagi, bagaimana cara kita melihat relasi keduanya dalam konteks menempatkan fungsi perpustakaan. Apakah perpustakaan memang harus menyediakan tidak saja buku-buku praktis tapi juga sarana untuk mempraktikkan (bengkel kerja) isi buku tersebut.

Fikir mendahului kerja (aksi)
Kegiatan membaca adalah kegiatan eksistensial. Si pembaca mencoba menemukan makna dirinya melalui apa yang ia baca. Tujuan pertama dan utama membaca adalah agar memiliki konsep berfikir yang benar dan konsep kesadaran diri yang benar. Dua bentuk kesadaran tersebut menjadi modal penting dan berpotensi membuat si pemilik kesadaran memperoleh kesejahteraan, tidak saja jiwa tapi juga materi (ekonomi).

Dengan demikian peningkatan kesejaheraan (ekonomi) hanya dampak dari proses membaca (berfikir) yang mendalam tersebut. Sekaligus ini mengoreksi dominannya adagium primum vivere deinde philosophari. Hidup (mapan ekonomi) dulu baru berfilsafat. Sehingga mayoritas masyarakat menganggap, budaya berfikir, terutama berfikir secara mendalam itu tidak penting.

Potensi terbesar manusia itu ada pada fikirannya. Bukan fisiknya. Itu sebab Rasul SAW mengingatkan: bertafakur (berfikir mendalam) satu saat lebih baik daripada ibadah satu tahun.Di al-quran banyak sekali ayat-ayat yang diakhiri dengan kata-kata afalaa ta’qilun, afalan tatafakarun, afala tatadabbarun yang memberikan penegasan bahwa kita diminta berfikir.

Maka, frasa perpustakaan dan kesejahteraan bisa kita setujui dalam pengertian jika perpustakaan mampu memberikan fasilitasi terhadap tradisi berfikir mendalam melalui buku-buku yang disediakan. Serta menginisiasi forum diskusi-diskusi isi suatu buku. Dengan kata lain niatan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tersebut berada dalam satut tarikan nafas dengan upaya perpustakaan menyediakan buku-buku yang berkualitas serta para pustakawan tercerahkan, yang dapat memberikan/menstimulasi munculnya kesadaran berfikir dan diri si pembaca. Sehingga para pembaca dapat mengenal potensi diri dan lingkungannya. Lantas memanfaatkan keduanya untuk melakukan hal-hal yang produktif dan bermanfaat, tidak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk lingkungan sekitarnya.

Karena saya yakin jika seseorang telah mampu menemukan konsep berfikir yang benar dan konsep kesadaran diri yang benar pula, dengan sendirinya ia akan mencari jalan untuk memperoleh kesejahteraan. Sampai di sini tugas perpustakaan, cukup. Karena tiap orang punya jalan hidup masing-masing, yang tidak bersifat matematis. Tiap orang punya kecepatannya masing-masing.

Kembalikan fungsi perpustakaan sebagai tempat untuk menjaga nalar kritis dan sehat publik. Tempat masyarakat menemukan konsep berfikir yang benar dan konsep kesadaran diri yang benar pula.⦁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>