Stop Minta Buku Gratisan!

dauzan

:: Agus M. Irkham

Bagi para pegiat literasi, nama Dauzan Farook tentu sangat famiiar. Pemilik perpustakaan MABULIR (Majalah dan Buku Bergilir) ini menjadi inspirasi buat banyak pegiat dalam menjaga marwah atau martabat diri.

Ada dua hal yg menjadi legacy atau warisan alm Mbah Dauzan. Pertama, bacaan harus didekatkan pada calon pembaca. Kelompok baca dan multy level reading dalam istilah beliau. Jika saat ini Anda mengenal Pustaka Bergerak, sesungguhnya inspirasinya dari MLR mbah Dauzan Farook ini.

Legacy kedua berupa pola hubungan yg saling menopang antara pegiat literasi dgn pelaku atau pekerja buku. Beliau tdk mau diberi buku dgn cuma2. Uang pensiun sbg veteran ia belanjakan semua untuk membeli buku dgn tambahan permintaan agar penerbit memberikan diskon maksimal. Akumulasi diskon tsb nantinya diwujudkannya lagi dalam bentuk buku. Sehingga dgn uang yg sama, ia dpt memperoleh buku dgn jumlah judul yg lebih banyak. Terjadi simbiosis mutualisme. Dgn pola demikian penerbit memperoleh cash money–minimal BEP–sehingga bisa menerbitkan buku baru. Roda usaha bisa berjalan. Marwah mbah Dauzan sbg pegiat budaya baca pun terjaga–tdk meminta2 atau menengadahkan kedua tangan. Dgn demikian beliau juga turut menopang berjalannya industri perbukuan dan menghargai penulis.

Ada satu kebiasaan–ini saya baca di buku INDIEPRENEUR-nya Pandji Pragiwaksono–meminta secara gratisan suatu karya entah buku atau kaset jika yg berkarya tersebut teman, saudara atau kolega kita. Sebaliknya, justru Pandji menyarankan untuk menolak–bahkan jika kita diberi secara cuma2. Karena setiap karya yang terjual menjadi harapan baginya untuk berkarya lagi dan lagi.

Untuk diketahui, satu eksemplar buku yg diberikan secara cuma2, seorang penulis harus merelakan royalti dari 10 eksemplar yg terjual.

Terakhir, jika kita ingin budaya membaca bangsa ini meningkat, ada satu cara yg tiap kita bisa melakukannya yaitu belilah buku. Karena tiap buku yg Anda beli menjadi satu batu bata yg akan menyusun bangunan industri perbukuan kita semakin maju dan berkembang. Karena salah satu faktor kunci dari peningkatan budaya baca adalah kemudahan akses terhadap bacaan. Akses di sini tdk hanya menyangkut soal tempat tapi juga kualitas dan kuantitas bacaan. Dan pada titik terakhir disebut, peran industri perbukuan (penulis dan penerbit) sangat vital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>