Saya Pancasila Sudah Sejak Dulu Kala

wiwit

:: Agus M Irkham

Rencana mengadakan reuni saat SMP membawa ingatan saya pada beberapa teman saat kecil. Satu di antaranya bernama Christian Widayanto yang akrab disapa Wiwid. Saat kelas 1, ia duduk sebangku dengan saya. Saat itu tahun 1990. Berarti sekitar 28 tahun yang lalu. Ada yang berbeda dari sosok Wiwid ini dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Pertama ia beragama kristen. Kedua, ia berasal dari orangtua warga keturunan China. Ayah dan Ibunya China. Karena duduk sebangku, tentu saya memiliki tingkat keakraban yang lebih dibandingkan teman-teman yang lain. Bentuk keakraban itu tidak hanya terbatas di kelas atau sekolah tapi juga di rumah. Kebetulan rumah saya dan dia meskipun tidak berada di dusun yang sama, masih cukup dekat. Kurang lebih sekitar 15 menit bersepeda.

Saya sering main ke rumahnya. Tentu saja, karena keluarganya penganut kristen, ada beberapa lambang salib di dinding. Ibunya sangat baik. Profesinya kalau tidak salah ingat, sebagai penjahit dan pernah juga membuka warung makan. Saat saya ke rumahnya, selalu ditawari makanan. Tapi saya tidak pernah mau. Karena saya diingatkan orangtua saya, agar tidak makan dari makanan yang dimasak keluarga Wiwid. Kuatir jika mengandung bahan-bahan yang diharamkan dalam agama Islam. Dan sepertinya baik Wiwid dan ibunya tahu kekuatiran saya tersebut.

“Mesti Agus, kalau ditawari makan tidak pernah mau,” ucap Mamanya Wiwid suatu ketika. “Takut jika mengandung minyak babi ya Gus,” sapanya sambil tersenyum. Mendengar ucapan tersebut saya ikut senyum. Baik Wiwid dan mamanya sepenuhnya maklum dengan sikap saya itu. Mereka tidak marah. Mereka menghormati pilihanku. Pemakluman tersebut mungkin juga karena mereka tahu ayah saya yang menjadi Guru Agama Islam di Madrasah Ibtidaiyah yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.

Penolakan saya yang berulang kali tersebut memunculkan satu kebiasaan baru ketika saya main ke rumah Wiwid, yaitu dibelikan jajanan dan nasi bungkus dari pasar. “Ini Gus, dimakan, aku beli dari pasar kok,” begitu ucap Wiwid. Tanpa banyak cakap, saya pun menikmati makanan yang telah dihidangkan. Saat itu, belum ada pikiran macam-macam. Tidak ada analisis yang rumit dan ndakik-ndakik untuk memotret persahabatan kami itu.

Tidak ada satu pikiran yang mengganjal atau sebaliknya merasa diri bangga karena saya sebagai anak dari seorang guru agama Islam bersahabat dengan seorang anak yang beragama kristen sudah begitu China lagi. Padahal dua hal tersebut ketika itu masih menjadi isu sensitif dan bukan sesuatu yang lazim di lingkungan saya.

Semua berjalan alamiah belaka. Mungkin kalau kejadian tersebut berlaku sekarang sudah langsung diframing dengan tagar #toleran dan #sayapancasila 😊

Dari Wiwid saya belajar bermain gitar dan volley. Saat di SMP ia menjadi toser andalan tim volley sekolah. Dukungan saya terhadap Wiwid ini—lebih tepatnya sebagai bentuk pelampiasan saya yang tidak bisa bermain volley, pada ingin bisa huehuehue—sampai saya bela-belain meloloskan permintaannya meminjam sepatu olahraga saya untuk digunakan saat bertanding volley yang kemudian berlarut-larut dipakainya. Hehe.

Wiwid ini memiliki om yang bekerja di Semarang. Ketika berkunjung ke rumahnya, ia sering membawa oleh-oleh berupa merchandise. Saya sering kebagian merchandise tersebut. Wiwid yang memberi saya. Saya masih sangat ingat, merchandise yang pernah saya terima berupa ballpoint yang ada pengaitnya yang berbentuk seperti pegas dan ada tempat untuk memberdirikan ballpoint tersebut. Waahhh, saat itu pemberian seperti itu sudah membuat saya sangat senang. Dari Wiwid pula saya mulai menyukai perangko dan mengoleksinya. Ia sering memberi koleksi perangkonya ke saya. Koleksi tersebut masih saya simpan sampai sekarang. Tidak hanya itu, saya juga sering sekali diberi keong emas, karena kebetulan Wiwid mengembangbiakkan keong emas di rumahnya untuk dijual.

Tidak hanya saya yang berkunjung ke rumah Wiwid, ia pun sering main ke rumah saya. Meskipun tidak sebanyak saya main ke rumahnya. Ada dua kejadian yang sampai sekarang saya masih ingat. Suatu sore Wiwid datang ke rumah saya mengayuh sepede. Tujuannya sebenarnya ia hendak ke sekolah untuk ikut ekstrakurikuler Volley. Karena keasyikan main dan ngobrol, ia tidak jadi ke sekolah, yang akibatnya esoknya harinya ia dimarahi guru pembimbing ekstra. Harap maklum. Karena peran Wiwid sangat vital di tim.

Kejadian kedua, dulu jika orang punya hajat, tanggapan hiburannya dengan memutar video semalam suntuk. Saat itu masih menggunakan kaset video VHS yang jumlahlah bisa 2-3 peti besar. Saat ada yang nanggap video di dusun Wiwid, saya ikut nonton dan paginya tidur di rumahnya. Demikian pula suatu saat tidak jauh dari rumah saya ada yang punya hajat dan menanggap video, Wiwid pun ikut menonton semalam suntuk, dan saat subuh, pertanda pertunjukkan selesai ia tidur di amben di teras rumah saya. Kedekatan kami juga sampai pada hal-hal yang sifatnya sangat personal. Suatu kali ia pernah bertutur: “Gus, jangan cerita-cerita dulu. Kemungkinan saya akan masuk Islam.” Saat itu sekitar tahun 1993. Saat kami duduk di kelas 3 SMP dan kebetulan kami sekelas lagi.

Saya yakin pengalaman yang berlangsung 28 tahun tersebut ikut membentuk persepsi dan karakter saya pada hari ini. Dalam konteks persahabatan dengan Wiwid berarti bertalian dengan sikap toleran dan mau berteman dengan orang yang memikili latar belakang sosial dan agama yang berbeda. Kalau boleh ngelantur sedikit, mestinya pembinaan ideologi Pancasila itu bersifat bottom-up seperti ini. Memberikan pengalaman batin langsung pada warganya. Bukan dengan cara topdown. Mendirikan lembaga negara Pembina Pancasila yang pada akhirnya berpotensi dibajak oleh negara dan digunakan untuk menggebuk lawan-lawan politiknya.

Setelah lulus SMP, saya dan Wiwid terpisah. Saya meneruskan sekolah di luar kota. Kami tidak pernah bertemu hingga…ada rencana reuni perak usai lebaran nanti. Kami bertemu lagi. Kini ia sudah menjadi muslim. Sudah menikah dan dikaruniai tiga putra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>