Sepenggal Cerita Tentang Guru-Guru SMP : Bagian Pertama

guru_SMP_1

:: Agus M Irkham

Status (agak) panjang ini saya tulis dalam rangka reuni yang telah diselenggarakan kawan-kawan alumni SMP Negeri 1 Gringsing angkatan lulus tahun 1993. Kenangan yang tersimpan di benak saya selain saat bergaul dengan teman-teman juga kenangan tentang beberapa guru. Paling tidak ada lima guru yang menurut saya paling memberikan kesan mendalam di ingatan dan batin saya.

Pertama adalah bu Anik. Beliau mengajar matapelajaran Geografi saat saya berada di kelas 1 (satu). Ibu guru bernama lengkap Sri Any Kustyowati, S.Pd ini berpenampilan rapi layaknya seorang sekretaris perusahaan di era 1990-an. Apalagi selain mengajar Geografi, kalau tidak salah ingat beliau juga mengajar pelajaran keterampilan mengetik untuk kakak kelas. Jadi lengkap sudah gambaran saya tentang ibu Anik yang mirip sekali seorang sekretaris.

Hal penting apa yang saya peroleh dari beliau?

Memahami proses. Iya betul. Pelajaran Geografi yang dalam pandangan umum dianggap pelajaran menghafal, tapi tidak dalam pandangan bu Anik. Saat beliau memberikan pelajaran, Geografi ia tempatkan sebagai pelajaran logika dan proses berlangsungnya suatu peristiwa. Ada dua kata kunci yang selalu beliau ucapkan ketika bertanya kepada siswa setelah kata APA (What), yaitu kata MENGAPA (Why) dan BAGAIMANA (How).

Misalnya tentang angin darat dan angin laut. Pengetahuan tentang keduanya tidak didasarkan pada hafalan definisi, tapi pada bagaimana proses terjadinya angin darat dan laut. Sehingga para siswa tidak hanya tahu tapi juga mampu memahami mengapa angin laut terjadi di siang hari, sedangkan angin darat terjadi di malam hari. Karena cara mengajar yang sangat bagus, saya sangat menyukai pelajaran Geografi ini. Oleh Bu Ani nilai rapor kelas 1 saya di semester 1 dan 2 diberi nilai 9 (sembilan).

Guru kedua yang secara pribadi membuat saya terkesan adalah Bu Siti Aulia. Selain pernah menjadi wali kelas saat kelas 1 dan 3, Bu Aulia ini guru keterampilan. Banyak hal yang pernah saya dan teman-teman kerjakan. Mulai dari membuat barang dari tanah lempung, mengukir kayu hingga membuat hiasan pernikahan dari janur dan buah-buahan.

Meskipun ribet, dan saat mencari bahan-bahannya bikin stress, namun secara umum saya lalui pelajaran keterampilan ini dengan segenap rasa gembira. Apalagi selalu saja ada peristiwa lucu yang terselip di pelajaran ini. Misalnya saat ada tugas membuat hiasan pernikahan dari janur dan buah-buahan, oleh beberapa teman, buah-buahan yang ada bukannya ditusuk lidi dan ditempelkan di galih pisang, eh malah di makan hahaha.

Ada lagi satu peristiwa yang tak kalah konyolnya. Ketika kami harus mengukir kayu di masing-masing meja, biasanya Bu Aulia akan berjalan keliling dari satu meja ke meja yang lain untuk mengecek hasil ukiran. Ada saja teman-teman meninggalkan mejanya, berjalan ke meja lain yang agak jauh dengan alasan meminjam alat ukir. Dengan begitu ia terbebas dari kontrol Bu Aulia. Biasanya anak-anak yang duduk di belakang yang punya siasat licik seperti ini. Hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>