Telanjang Dada di Tengah Lapangan : Bagian Kedua dari Sepenggal Cerita Tentang Guru-Guru SMP

arifin
:: Agus M Irkham

Masih tentang Bu Aulia, sesungguhnya saya tidak begitu menyukai pelajaran keterampilan karena entah kenapa ada semacam keyakinan yang tertanam di otak saya bahwa saya orangnya tidak bisaan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan. Dan terbukti memang selain memakan waktu yang lama ketika menyelesaikan tugas, hasilnya pun tidak sesuai yang diharapkan, untuk tidak mengatakan jelek, hehehe.

Meskipun tidak menyukainya saya harus melaluinya. Musti tabah, tidak lari atau menempuh jalan pintas dengan meminta orang lain membuatkan. Melalui pelajaran ini pula saya mulai tahu tentang konsep bakat. Karena ada beberapa teman yang secara akademik biasa-biasa saja, tapi sangat bagus di pelajaran keterampilan. Saya tidak tahu persis tujuan dari pelajaran keterampilan ini. Apakah sebagai bentuk upaya memberikan bekal keterampilan pada siswa, atau menjadi bagian dari ikhtiar memunculkan dan mengembangkan kecerdasan non akademik yang dipunyai siswa, atau perpaduan di antara keduanya

Yang jelas dari pelajaran keterampilan ini yang saya lihat, teman-teman yang memiliki energi berlebih, tidak mau diam serta nyeni jadi punya pelampiasan atau katarsis untuk melampiaskan bakat seni dan energi berlebihnya tersebut. Tapi tentu saja, teman-teman yang sejenis saya jumlahnya lebih banyak lagi.

Sosok guru ketiga yang membekas di ingatan saya adalah Pak Arifin. Beliau mengajar mapel olahraga. Saya bertemu dengan Pak Arifin ini mulai dari kelas 1 hingga 3. Jenis olahraga yang sering diajarkan volley dan basket. Dua jenis olahraga yang sama sekali tidak bisa lakukan. Dan secara umum saya tidak menyukai kegiatan fisik. Mungkin saja hak tersebut dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil yang pernah mengidap sakit kencing batu hingga harus dioperasi sehingga sangat membatasi aktivitas fisik.

Tapi saat melihat banyak teman-teman yang pandai bermain volley, rasa ingin bisa pun muncul. Meskipun saat melakuka passing selalu harus push up karena gagal mengembalikan passing, saya terus belajar bermain volley. Termasuk basket. Mapel olahraga berlangsung di jam 1 dan 2 serta 3 dan 4. Di antara jam 3 dan 4 ada jam istirahat belajar.

Ketika kelas 2, jam mapel olaharaga kami jam 3 dan 4. Setelah melakukan senam pemanasan dan pelajaran inti oleh Pak Arifin kami dibagi menjadi dua tim dan bertanding. Tim yang kalah harus melepas kaos olahraga alias telanjang dada. Nah, tim yang selalu ada saya pasti kalah, yang berarti harus telanjang dada. Celakanya hal itu berlansung saat jam istirahat. Tak khayal, kami pun menjadi pusat tontonan semua siswa yang sedang istirahat. Sudah panas, kami harus menahan rasa malu. Tapi semuanya harus dijalani tanpa keluhan. Sampai di sini saya memperoleh pelajaran penting tentang konsekuensi dan sikap sportif.

Biar pun pelajaran olaharaga yang identik dengan olah fisik, pak Arifin juga memberikan nilai-nilai kepemimpinan dan keberanian untuk berinisiatif. Salah satunya dengan menunjuk seorang siswa, seringnya ketua kelas, untuk maju ke depan dan memimpin teman-temannya melakukan gerakan senam. Ragam gerakannya diserahkan sepenuhnya kepada anak yang ditunjuk tersebut.

Bagusnya, pak Arifin turut menirukan gerakan yang diintruksikan oleh siswanya tersebut. Tentu hal sederhana itu menjadi tidak lagi sederhana karena telah berhasil memberikan rasa percaya dari pada siswa untuk memimpin. Sikap yang ditunjukkan pak Arifin juga dalam rangka menambah kredibilitas ‘si instruktur senam’ agar kawan-kawannya mau mengikuti gerakan senam yang diinstruksikannya.

Satu momen yang sarat nilai pendagogis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>