Tentang Bu Lastri dan Pak Tris : Bagian Ketiga dari Sepenggal Cerita Tentang Guru-Guru SMP (Habis)

ijazah
:: Agus M. Irkham

Sosok guru yang keempat yang secara pribadi membuat saya terkesan adalah Ibu Sri Sulastri. Sosok guru yang lemah lembut ini saat kelas 2 menjadi wali kelas saya. Selain itu Bu Lastri—demikian beliau akrab disapa—juga mengajar mapel Bahasa Jawa. Dari Bu Lastri ini saya lebih banyak memperoleh kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kepemimpinan dan keberanian untuk berinisiatif. Mulai dari menjadi komandan upacara saat peringatan hari hari pramuka tingkat kecamatan di lapangan Tlahab, mendi Pembina Upacara ketika peringatan Hari Anak Nasional hingga menjadi pemandu paduan suara (diregen) saat kelas saya mendapat jatah menjadi petugas upacara bendera. Pengalaman itu semua tentu saya kira turut mempengaruhi ketika saya tumbuh dari masa anak ke masa usia awal remaja.

Bagaimana dengan mapel Bahasa Jawa yang Bu Lastri berikan?

Secara umum saya menyukainya. Hanya saja saya mengalami kesulitan jika sudah masuk ke materi menulis dan membaca aksara jawa. Ketika ada mencongak (pertanyaan mendadak) dapat dipastikan saya yang paling tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Waktu itu bahasa jawa yang sangat hierarkis juga saya pahami sebagai bahasa yang kurang praktis. Dalam bahasa yang agak rumit sedikit, bahasa Jawa adalah bentuk feodalisme kaum bangsawan atas kaum jelata. Bahasa menjadi sarana penguasaan. Pemahaman seperti itu saya peluk sampai usia dewasa.

Tapi belakangan, setelah saya selesai kuliah dan kembali ke rumah dan bergaul dengan masyarakat, pemahaman tersebut ternyata keliru. Justru dengan menguasai bahasa Jawa membuat kita luwes dalam bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Apalagi mayoritas masyarakat di sekitar saya menggunakan bahasa Jawa. Justru ketika menggunakan bahasa Indonesia terkesan elitis dan menciptakan jarak. Pada titik ini, andai waktu boleh balik ke belakang, saya ingin kembali menjadi siswa Bu Lastri. Saya akan belajar ekstra mempraktikkan menulis dan berbicara dalam bahasa Jawa sesuai dengan situasinya. Melihat berbicara pada siapa. Dengan demikian kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Jawa yang sesuai dengan situasi atau unggah ungguh/adab tidak saya alami seperti yang sekarang terjadi pada saya.

Kalau boleh sedikit memberikan saran, mungkin alangkah bagusnya jika pembelajaran bahasa Jawa Ini, para siswa dihadapkan pada praktek berbahasa Jawa. Misalnya melalui simulasi dialog di depan kelas atau menyusun satu scenario drama dalam bahasa Jawa. Sehingga para siswa akan tahu langsung manfaat sehari-hari jika pandai dalam berbahasa Jawa. Dan jalannya pembelajarannya akan menarik. Anak-anak pun akan menyukainya.

Guru berkesan yang terakhir buat saya adalah Pak Tris. Guru mapel matematika ini ditakuti hampir semua siswa. Karena galak dan ringat lisan dan tangan. Karena di zaman sekarang, mungkin beliau sudah dipanggil komnas anak. Hehehe. Sosok yang bernama lengkap Sutrisno ini perokok berat. Saat mengajar pun sambil merokok. Uniknya sebelum rokok dibakar, minya kapak akan dioleskan ke rokok tersebut. Sepertinya untuk obat juga. Karena beliau menderita sakit gigi.

Meskipun banyak teman yang punya pengalaman buruk ketika diajar pak Tris, saya pribadi justru memperoleh pengalaman baik. Satu hal yang masih saya ingat, ketika beliau mengajukan pertanyaan, terutama ketika jawabannya bersifat pilihan ganda, beliau tidak mau merima jawabannya langsung tanpa ada alasan bagaimana jawaban tersebut diperoleh. Artinya beliau ingin para siswa tidak hanya tahu jawaban mana yang benar, tapi proses bagaimana jawaban yang benar tersebut “ditemukan”.

Saya kira pak Tris ini orang yang berjasa mengembalikan rasa percara diri saya ketika menghadapi pelajaran Matematika. Hasilnya? Nilai mapel matematika saya di STTB (Surat Tanda Tamat Belajar) 9 (Sembilan). Padahal sebelumnya, terutama saat di SD nilai rapor saya selalu kebakaran. Karena nilai matematika yang tidak bisa lebih dari angka 5 (lima).

Pak Tris selain mengajar mapel, beliau suka sekali mengajak para siswa bersih-bersih kelas. Biasanya berlangsung di hari Sabtu sore. Sehingga ketika senin kelas sudah bersih. Hal ini dilakukan karena dulu ketika musim penghujan datang, kelas mudah sekali kotor karena tapak sepatu para siswa yang penuh “gebal” (tanah yang menempel di sepatu). Padahal di depan kelas, sudah dipasang ram-raman besi yang digunankan untuk “keset” sepatu.

Nah, setelah bersih-bersih selesai ini Pak Tris selalu memberikan perhatian atau apresiasi ke para siswa dengan memberikan makanan. Mulai dari permen hingga jambu. Karena beliau suka tanaman juga. Dan di rumahnya banyak tanamana buah. Perhatian kecil ini selalu saja sukses membuat teman-teman melupakan (sejenak) gambaran sosok Pak Tris yang galak saat mengajar dan selalu membuat badan panas dingin. Kayak kena tipes saja, hehehe.

Tidak ada guru yang sempurna. Semua ada plus minusnya. Mereka telah membersamai saya dan teman-teman melawati masa-masa penting dalam kehidupan kami yaitu ketika akhir usia anak dan memasuki usia awal remaja. Usia-usia yang sangat rawan, karena tengah mencari identitas diri.

Terima kasih Pak Tris, Pak Arifin, Bu Anik, Bu Lastri, Bu Auliya serta Bapak & Ibu guru lainnya. Semoga Allah Swt membalas seluruh kebaikan yang telah Bapak-Ibu berikan kepada kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>