Berburu Ruang Gema

echo_chambers

:: Agus M. Irkham

“Ada yang bilang kalau politik dalam masa kampanye ini adalah politik kebohongan,” ujar Ismail Fahmi, analis digital media dari Drone Emprit. “Kalau saya bilang, kontestasi politik saat pilpres ini adalah politik noise,” lanjutnya. “Kedua kubu berusaha menampilkan dan mengamplifikasi noise yang timbul dari lawan mereka. Akibatnya, publik kurang mendapat gagasan penting dari masing-masing kubu. Jadi, siapa yang bisa mengamplifikasi gagasan mereka agar publik bisa menilai?” pungkas founder PT. Media Kernels Indonesia itu.

Simpulan tersebut, muncul setelah Drone Emprit melakukan analisis terhadap munculnya (tagar) #SaveMukaBoyolali yang menjadi trending topic social media.

Tentang amplifikasi noise ini segendang sepenarian dengan apa yang pernah diungkapkan Wael Ghonim di Ted.Com beberapa waktu silam. Ghonim adalah salah satu dari aktivis internet di Mesir dan aktor penting dibalik tumbangnya kekuasaan Hosni Mubarok 2011 silam.

Amplifikasi Noise
Menurut Ghonim kita cenderung menciptakan amplifikasi noise sendiri—Ghonim menyebutnya dengan istilah ruang gema sendiri. Kita cenderung hanya mau berkomunikasi dengan orang yang sepemikiran dan sepaham. Dan berkat social media, kita dapat mendiamkan, berhenti mengikuti dan mengeblok orang lain dengan enteng.

Akibatnya polarisasi tidak lagi bisa dihindarkan. Maka yang muncul kemudian adalah menempatkan segala sesuatu pada timbangan oposisi biner. Kalau bukan teman, pasti lawan. Kalau bukan sekutu, pasti musuh. Jika bukan hitam, pasti putih. Jika bukan lovers, pasti haters. Kalau bukan cebong pasti kampret. Akhirnya kita masuk pada suatu masa di mana setiap kritik (terhadap pemerintah) disimpulkan sebagai bentuk ujaran kebencian.

Mengapa bisa terjadi seperti itu?

Pada dasarnya setiap manusia selain memiliki sisi baik juga memiliki potensi untuk berfikir dan bertindak tidak baik. Hanya saja suasana yang berlangsung dunia nyata membuat Anda tidak diizinkan untuk bersikap reaktif dan impulsif. Segera menuruti apa yang tergerak di pikiran dan hati dengan suatu tindakan. Padahal Anda ingin, dan itu sebenarnya manusiawi. Namun reaksi negatif tersebut urung Anda lakukan karena Anda dibatasi dengan sopan santun sosial, dan rasa ewuh pekewuh (segan). Dua pedal pengerem laju emosi itu hanya ada di komunikasi sehari-hari di dunia nyata. Dan tidak tercipta dalam komunikasi di dunia maya. Jika Anda tidak menyukai seseorang, hanya perlu satu klik untuk menindaklanjuti dorongan tidak suka tersebut : block atau unfriend.

Jadi centeng perenang kutub (polarisasi) itu didorong oleh perilaku manusiawi kita, media sosial membentuk perilaku tersebut dan melipatgandakannya. Menjadi ruang gema bagi pelampiasan hasrat kita.

Dalam situasi seperti itu, menurut Ghonim, media sosial semakin memperparah keadaan, dengan memfasilitasi beredarnya informasi palsu, rumor, ruang gema dan kampanye kebencian. Suasananya menjadi sangat buruk. Dunia online jadi kancah peperangan penuh kejahilan, kebohongan dan kebencian.

Satu postingan pendek yang terdiri tak lebih dari lima kata di dinding facebook dengan cepat bisa menjadi debat panas penuh caci maki dan kemarahan. Kita lupa bahwa tiap diri yang berada di balik komputer dan gawai adalah orang biasa bukan hanya avatar.

Ghonim melihat sekarang ini, paling kurang ada dua kecenderungan sekaligus tantangan kritis yang dihadapi media sosial. Pertama, kita sulit mengubah opini yang terlanjur terlontar. Karena kecepatan dan singkatnya media sosial, kita sering mengambil keputusan terlalu cepat dan menulis opini tajam dalam 140 karakter tentang masalah dunia yang kompleks. Sekali kita melakukannya, ia terus ada dalam internet, dan kita jadi kurang termotivasi untuk mengubah pandangan tersebut, walaupun bukti baru muncul.

Kedua, pengalaman media sosial kita saat ini didesain untuk lebih sebagai penyebaran informasi daripada keterlibatan aktif, postingan (sekadar update status personal) dibanding diskusi, komentar dangkal dibanding percakapan intelek. Seolah-olah kita setuju bahwa kita di sini untuk berbicara atas satu sama lain, alih-alih bicara dengan satu sama lain.

Pusat perhatian dalam setiap update status di sosial media adalah pemilik akun itu sendiri. Rasa senang akan muncul jika dalam beberapa menit saja, ratusan orang sudah ngelike statusnya. Puluhan komentar muncul dan status tersebut dishare banyak orang. Dan biasanya hanya pada postingan status yang provokatif, agresif, lebih sepihak dan memuat rasa geram yang akan lebih mendapatkan respon atau perhatian lebih dari netizen. Perhatian itu menjadi darah bagi keaktifan seorang netizen di media sosial.

Dalam situasi tersebut, lantas apa yang masih bisa kita lakukan, agar ekosistem media sosial menghargai kebijaksanaan, kesopanan dan pemahaman bersama?

Kita perlu bekerja keras untuk menemukan peran teknologi sebagai bagian dari solusi. Bukan sebaliknya justru menjadi bagian dari masalah. Secara personal, mulailah untuk lebih mengedepankan kualitas—jumlah orang berpengaruh (influence) yang membaca postingan Anda—dibandingkan berburu ruang gema yang terkuantifikasi dalam bentuk jumlah yang like, share dan menulis komentar. Bebaskan social media dari belenggu untuk melayani sifat tidak terpuji kita.⦁

Ilustrasi >> www.tun.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>