Tentang Bu Lastri dan Pak Tris : Bagian Ketiga dari Sepenggal Cerita Tentang Guru-Guru SMP (Habis)

ijazah
:: Agus M. Irkham

Sosok guru yang keempat yang secara pribadi membuat saya terkesan adalah Ibu Sri Sulastri. Sosok guru yang lemah lembut ini saat kelas 2 menjadi wali kelas saya. Selain itu Bu Lastri—demikian beliau akrab disapa—juga mengajar mapel Bahasa Jawa. Dari Bu Lastri ini saya lebih banyak memperoleh kesempatan untuk melakukan hal-hal yang berhubungan dengan kepemimpinan dan keberanian untuk berinisiatif. Mulai dari menjadi komandan upacara saat peringatan hari hari pramuka tingkat kecamatan di lapangan Tlahab, mendi Pembina Upacara ketika peringatan Hari Anak Nasional hingga menjadi pemandu paduan suara (diregen) saat kelas saya mendapat jatah menjadi petugas upacara bendera. Pengalaman itu semua tentu saya kira turut mempengaruhi ketika saya tumbuh dari masa anak ke masa usia awal remaja.

Bagaimana dengan mapel Bahasa Jawa yang Bu Lastri berikan?
Continue reading

Telanjang Dada di Tengah Lapangan : Bagian Kedua dari Sepenggal Cerita Tentang Guru-Guru SMP

arifin
:: Agus M Irkham

Masih tentang Bu Aulia, sesungguhnya saya tidak begitu menyukai pelajaran keterampilan karena entah kenapa ada semacam keyakinan yang tertanam di otak saya bahwa saya orangnya tidak bisaan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan. Dan terbukti memang selain memakan waktu yang lama ketika menyelesaikan tugas, hasilnya pun tidak sesuai yang diharapkan, untuk tidak mengatakan jelek, hehehe.
Continue reading

Sepenggal Cerita Tentang Guru-Guru SMP : Bagian Pertama

guru_SMP_1

:: Agus M Irkham

Status (agak) panjang ini saya tulis dalam rangka reuni yang telah diselenggarakan kawan-kawan alumni SMP Negeri 1 Gringsing angkatan lulus tahun 1993. Kenangan yang tersimpan di benak saya selain saat bergaul dengan teman-teman juga kenangan tentang beberapa guru. Paling tidak ada lima guru yang menurut saya paling memberikan kesan mendalam di ingatan dan batin saya.
Continue reading

Saya Pancasila Sudah Sejak Dulu Kala

wiwit

:: Agus M Irkham

Rencana mengadakan reuni saat SMP membawa ingatan saya pada beberapa teman saat kecil. Satu di antaranya bernama Christian Widayanto yang akrab disapa Wiwid. Saat kelas 1, ia duduk sebangku dengan saya. Saat itu tahun 1990. Berarti sekitar 28 tahun yang lalu. Ada yang berbeda dari sosok Wiwid ini dibandingkan dengan teman-teman lainnya. Pertama ia beragama kristen. Kedua, ia berasal dari orangtua warga keturunan China. Ayah dan Ibunya China. Karena duduk sebangku, tentu saya memiliki tingkat keakraban yang lebih dibandingkan teman-teman yang lain. Bentuk keakraban itu tidak hanya terbatas di kelas atau sekolah tapi juga di rumah. Kebetulan rumah saya dan dia meskipun tidak berada di dusun yang sama, masih cukup dekat. Kurang lebih sekitar 15 menit bersepeda.
Continue reading

Di Ambang Kematian

664xauto-hukum-penggunaan-suntik-dan-infus-saat-puasa-160617i

:: Agus M. Irkham

“Put God first. Kata Denzel Washington, peraih piala Oscar lewat film Training Day saat memberikan orasi di Dillard University, Louisiana, Amerika. Put God first in everything you do. Lanjutnya. Denzel mengingatkan kepada yang hadir terutama mahasiswa Dillard University agar mengutamakan Tuhan dalam segala apa pun yang dilakukan.

Saya tidak hendak menempatkan pernyataan tersebut sebagai pernyataan yang merujuk pada keyakinan agama Denzel, namun lebih sebagai nilai (value) spiritualitas yang tentu saja bakal didapatkan di agama mana pun. Kaitan dengan hal itu ada satu peristiwa di bulan April ini pula yang mengingatkan saya pada “Put God first” tersebut.

Continue reading

Nur Rois Kandidat Doktor

184116_2253878583641_7919186_n

:: Agus M. Irkham

Jika kemarin saya cerita tentang Andi, masih tentang teman SMA, kali ini saya akan cerita teman saya lainnya. Rois namanya. Lengkapnya Nur Rois. Teman saat kelas dua SMA. Kami sama-sama mengambil jurusan Sosial (IPS). Kala itu tahun 1995. Jadi kurang lebih 23 tahun lalu. Tidak banyak yang saya ingat dari sosok yang satu ini, kecuali tiga hal. Pertama, kegemarannya menggambar tokoh hero animasi Jepang. Kegemaran itu tidak saja ia lakukan saat jam istirahat, tapi juga saat pelajaran tengah berlangsung.

Continue reading

History of Andi

1937080_1021400915738_3310279_n

:: Agus M. Irkham

Dulu saya punya teman SMA. Namanya Andi. Orangnya lucu dan ganteng. Banyak disukai teman-teman perempuan. Padahal secara intelektual tidak cerdas. Sering berbuat konyol.

Tapi satu hal yang paling konsisten saya lihat darinya adalah orangnya tulus. Di mata dia semua orang baik. Itu sebab mungkin meski tidak pintar secara akademik dia punya banyak teman. Tidak hanya laki-laki tapi juga perempuan.
Lulus SMA dia melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Semarang.

Continue reading

Salah Boleh, Culas Jangan

truth
:: Agus M. Irkham

Beberapa pekan lalu, saat saya berada di Bogor bertemu seorang teman lama. Teman akrab saat dulu kuliah di Undip. Sebut saja Adi. “Sudah lama memang saya bekerja di sini,” terangnya. Setelah berbicara ngalor-ngidul bernostalgia, tiba-tiba Adi terdiam. “Ada apa?” tanya saya. “Mau tidak, kamu menuliskan pengalamanku ini.” “Maksudmu?” “Ya. Saya ada sedikit peristiwa yang buatku ini rahasia, namun juga tak kuat jika saya simpan terus menerus.” “Kenapa saya yang harus menuliskannya? “Karena…khusus tentang ini saya tidak bisa menulis sendiri.”

Lama saya mendengar cerita Adi. Saya pun mencoba menuliskan tuturannya. Untuk menjaga privasi orang-orang yang terlibat dalam cerita tersebut, nama sebenarnya saya sembunyikan. Berikut adalah cerita Adi itu….

***

Continue reading

Melancongi Indonesia, Menumbuhkan Nasionalisme Remaja

on-the-road-indonesia-background-full

:: Agus M. Irkham

Akhir-akhir ini pembicaraan tentang NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) mengemuka. Sesuai dengan bunyi satu pepatah bahwa tak kenal maka tak sayang, maka agar muncul rasa sayang dan cinta, berkenalanlah.

Bagaimana caranya agar sayang dan cinta Indonesia? Kenali ia. Bagaimana caranya? Melanconglah. Susuri tiap wilayah di Nusantara ini. Akrabi geografis dan denyut nadi kehidupannya. Tidak hanya menikmati keindahan alam saja, sebaliknya harus lumer, turut terlibat akrab dengan masyarakat penghuninya. Dengan begitu akan muncul rasa sayang dan cinta. Kesadaran kewilayahan dan kebangsaan akan kian menguat.

Continue reading

Sumber Bahagia di Belakang Rumah Kita

gambas

:: Agus M Irkham

Sesungguhnya untuk bahagia anak-anak tidak selalu memerlukan tempat dan wahana yang bersifat artifisial dan harus keluar rumah. Belakang rumah kita bisa menjadi sumber bahagia yang tak habis-habis. Misalnya melalui kegiatan berkebun dan berternak. Tidak harus besar dan luas. Karena yang kita tuju bukan skalanya tapi sisi praktis/proses dan substansi yang ada di dua kegiatan tersebut.

Continue reading