Melancongi Indonesia, Menumbuhkan Nasionalisme Remaja

on-the-road-indonesia-background-full

:: Agus M. Irkham

Akhir-akhir ini pembicaraan tentang NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) mengemuka. Sesuai dengan bunyi satu pepatah bahwa tak kenal maka tak sayang, maka agar muncul rasa sayang dan cinta, berkenalanlah.

Bagaimana caranya agar sayang dan cinta Indonesia? Kenali ia. Bagaimana caranya? Melanconglah. Susuri tiap wilayah di Nusantara ini. Akrabi geografis dan denyut nadi kehidupannya. Tidak hanya menikmati keindahan alam saja, sebaliknya harus lumer, turut terlibat akrab dengan masyarakat penghuninya. Dengan begitu akan muncul rasa sayang dan cinta. Kesadaran kewilayahan dan kebangsaan akan kian menguat.

Continue reading

Sumber Bahagia di Belakang Rumah Kita

gambas

:: Agus M Irkham

Sesungguhnya untuk bahagia anak-anak tidak selalu memerlukan tempat dan wahana yang bersifat artifisial dan harus keluar rumah. Belakang rumah kita bisa menjadi sumber bahagia yang tak habis-habis. Misalnya melalui kegiatan berkebun dan berternak. Tidak harus besar dan luas. Karena yang kita tuju bukan skalanya tapi sisi praktis/proses dan substansi yang ada di dua kegiatan tersebut.

Continue reading

Merdeka Itu….

IMG_20160724_081239

:: Agus M Irkham

Identitas. Secara mudah dapat diartikan sebagai peran yang disandang oleh seseorang. Pada awalnya peran itu diperoleh untuk dikuasai. Tapi berubah menjadi diri yang dikuasai oleh peran tersebut. Maka ketika garis peran itu dilanggar, langsung tidak terima, tersinggung, marah, berupaya merebut kembali peran tersebut. Kenyataan yang terjadi ia anggap sebagai sebuah kesalahan besar.

Continue reading

Kerupuk

Lomba-lomba-Lucu-di-Kemerdekaan-17-Agustus-2015-makan-kerupuk
:: Agus M Irkam

Apa hubungan antara lomba makan kerupuk dengan kemerdekaan? Lewat pintu mana kita jadi bisa memahami kaitan antara bermain bola pakai sarung, panjat pinang belepotan oli, balap karung, bawa kelereng di sendok dan lomba memasukkan paku ke dalam botol dengan pembangunan. Tidak adakah bentuk lain dari perayaan hari kemerdekaan selain dengan kegiatan lomba yang “remeh temeh semacam itu?”

Continue reading

Memaknai Mudik Lebaran

mudik6

:: Agus M Irkham

Satu lema yang akrab, ketika Ramadhan menjelang purna, yaitu mudik. Orang rela bersusah payah demi mendapatkan pagi 1Syawal di kampung halaman. Meskipun kaki berasa pegal lantaran berdiri mengular antri tiket. Badan lungkrah tenat karena berbilang jam tergoncang-goncang di dalam bis.

Berlebaran di kampung asal, layaknya ibadah wajib ’ain. Mudiknya orang lain tak sanggup menggugurkan dirinya untuk tetap mudik. Bahkan dalam banyak kasus, melebihi wajib ’ain. Biar tidak puasa, mudik tetap harus. Puasa boleh batal, pulang tak boleh urung. Hingga ada sementara pihak yang menyangka bahwa para pemudik terlalu memaksakan diri. Menempatkan mudik lebih penting ketimbang puasa itu sendiri.

Continue reading

Titip Rindu untuk Ibu 

IMG_20141207_062258

:: Agus M Irkham

Saya terlahir dari keluarga besar.  Sebagai anak nomor 6 dari 8 bersaudara. Menjadi anak laki-laki terakhir. Dua adiknya saya perempuan.  Sejak kecil saya sakit-sakitan.  Terutama sakit batu ginjal, yang menyebabkan pada usia 6 tahun (sekitar tahun 1983) saya harus dioperasi di RS. Kariadi Semarang.  Oleh kedua orangtua saya, terutama dari ibu, saya mendapatkan perlakuan dan perhatian khusus.  Sepertinya kasih sayang yang diberikan kepada saya lebih besar dibandingkan yang diberikan kepada kakak dan adik-adik saya. Bisa jadi karena rasa kasihan akibat sejak kecil sudah sakit, serta opname lama.
Continue reading

Tentang Kematian

IMG_20141207_062958

:: Agus M Irkham

Setiap sesuatu yang hidup dengan sendirinya mendukung sisi rangkapnya: kematian.  Dalam bait-bait yang puitik nan dalam Bimbo mendedahkan gita berjudul Hidup dan Pesan Nabi: “Hidup bagaikan garis lurus, tak pernah kembali ke masa lalu.  Hidup bukan bulatan bola yang tiada ujung, dan tiada pangkal.  Hidup ini melangkah terus semakin mendekat ke titik terakhir.  Setiap langkah hilanglah jatah menikmati hidup, nikmati dunia.”
Continue reading

Belajar Menulis dari Teny dan Vivi

tips-menulis-di-blog-bagi-blogger-pemula

:: Agus M Irkham

Peristiwa ini berlangsung sekitar tahun 2008.  Saat itu saya menjadi instruktur pelatihan menulis di klinik baca tulis perpustakaan Kota Magelang.  Salah satu pesertanya adalah guru di Sekolah Luar Biasa (SLB).  Pak Budi namanya.  Saya lupa, tepatnya SLB jenis atau kategori apa.  Yang jelas seusai pelatihan, spontan saya diajak Pak Budi ini berkunjung ke SLB tempat ia mengajar.
Continue reading